Selasa, 29 Juni 2010

7 Tahun Untuk Senyuman, Arisa [part 1]


Rembulan sangat besar di hadapanku. Menghadap ke arah bumi.. sangat terang cahayanya.

Udara dingin serta meta menyelimuti tubuhku. Seperti melengkapi indahnya malam terang bertabur bintang ini. Yah.. sangat dingin udara ini. Sunyi.. tertangkap oleh telingaku sayu-sayu suara jangkrik serta samar-samar suara orang berteriak “goal” dan juga suara seperti kesal terhadap sesuatu.

Mungkin itu suara om dan papaku serta kakak sepupuku dan yang lainnya yang sedang berhuforia sorak sorai menikmati meriahnya world cup tahun ini.

Sedangkan aku?

Aku lebih tertarik menikmati indahnya malam di tempat ini. Dengan bintang yang berkerlap-kerlip. Aku sangat merindukan suasana ini. Suasana dingin.. berkerlip bintang, yang membawaku ke dalam ingatan 7 tahun lalu. Ketika aku berumur 10 tahun.


=======================================================

“arisa…! Risa risa risaaa…”, teriak Vano dari bawah teras vila ku di puncak membuyarkan lamunanku. Vano, anak lelaki yang sudah kukenal sejak 3 tahun lalu ketika aku berlibur ke sini.

“ayo main.. kamu diem-diem aja sih… aku mau liatin tempat bagus nih…”, teriak Vano kembali.

“iya… aku turun.. sebentar ya”, teriakku dengan suara yang tidak begitu keras. Aku melangkah masuk kembali ke dalam vila. Mencoba mengunci kamarku dan mengambil kuncinya, agar setidaknya mereka mengira aku sudah tertidur lelap.

Aku perlahan menelusuri tangga, aku rasanya seperti maling di dalam vila keluargaku sendiri.

Sekarang setelah mengendap-ngendap dan berhasil keluar rumah. Aku menemui Vano, sahabat kecilku yang manis. Dia tiga tahun lebih tua dariku. Dia selalu mengajakku bermain ketika aku kesepian berada di sini.

“risa.. sini..!”, bisik Vano sambil menarik tangan kananku.

Aku menuruti Vano. Dia menarikku ke tempat yang tidak kuketahui. Melewati semak-semak. Dan menginjak reumputan yang basah karena dinginnya malam.

“nah.. ini dia tempat yang mau kuliatin.. dudu di batu itu yuk!”, setelah melewati berbagai macam tanaman-tanaman yang menghalangi perjalanan kami. Akhirnya kami sampai pada sebuah tempat yang tidak cukup luas. Disana ada batu besar dan juga taman kecil. Tempat ini seperti taman rahasia di buku-buku yang pernah dibacakan mamaku ketika aku kecil.

Sekarang aku berada di atas satu-satunya batu besar di tempat ini. Duduk bersama Vano. Teman kecil yang tidak pernah kuberitahu pada papaku, dan tidak pernah bisa kukenalkan kepada mamaku.

“sekarang.. kamu bisa lihat bintang lebih jelas dari sebelumnya. Kamu liat? Bulannya terang.. bagus ya?”. Aku mengadah ke atas. Melihat langit begitu indah.. bulan sangat terang bertaburan bintang. Aku serasa bagai sherina di film petualangan sherina yang sedang berada di observatorium boscha bersama sadam sekarang. Ya.. aku sherinanya.. Vano adalah sadam. Hanya saja.. Vano jauh lebih baik dibandingkan sadam di film tersebut.

“Vano.. ada bintang jatuh!! Kita berdoa ya”, aku langsung memejamkan mata dan berdoa dengan sangat semangat. Vano nampaknya pun ikut berdoa.

“sa.. kamu doa apa?”, tanya Vano seusai kami selesai berdoa.

“rahasia.. hihihi”, jawabku sok misterius.

“hmmm. Oke.. kalau gitu,. Aku aja yang certain doaku ya? Jadi, aku itu doa supaya aku akan selalu bersama seorang putri yang selalu diceritakan mamaku 3 tahun belakangan ini. Putri itu selalu kesepian. Dia sangat suka cerita dongeng, dan juga cerita rakyat. Salah satu cerita favoritnya adalah cerita ‘secret garden’ aku sangat ingin selalu bersama dia. Makanya aku selalu cari dia setiap tahun”, jelas Vano sangat panjang.

Aku hanya terdiam terkagum mendengar penjelasan Vano. Vano adalah sosok yang unik di mataku. Dia baru duduk di bangku kelas 2 smp. Tetapi, dia amat sangat dewasa di mataku. Tutur bicaranya, bagaimana dia menatap. Mengajakku bermain. Entah kenapa, aku sangat dekat dengannya. Aku sangat sayang dengannya.


,,


“pletak”, tiba-tiba saja aku melihat batu kecil terlempar di hadapanku. Aku menoleh. Aku melihat Vano yang sedang mengumpat di balik tanaman mengayuhkan tangannya ke arahku. Mungkin dia mengajakku bermain.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Akupun mengecek kakak sepupuku kak Reno di dalam. Dia sedang asik bermain PS 2 nya. Kurasa, tidak apa kalau aku pergi sebentar bersama Vano.

Aku berlari ke arah Vano. Lagi-lagi seperti biasa aku mengikuti kemana dia membawaku pergi. Entah kenapa aku tidak pernah merasa takut bersamanya. Aku selalu nyaman dengannya. Jauh lebih nyaman dibandingkan saat aku bersama Kak Reno yang juga seusia dengannya. Entah kenapa.. aku sangat sayang dengan kawan kecilku yang hanya bisa kutemui setahun sekali ini.


…..
Kali ini aku dibawa Vano ke tepi sungai. Alirannya tenang. Banyak bebatuan besar di tengahnya. Vano mengajakku duduk di samping aliran sungai tersebut. Tetapi, aku amat sangat ingin bermain air dan duduk di atas bebatuan indah itu. Sungguh… tempat ini amat sangat indah.

“risa! Kamu mau kemana?”, Vano menahanku dengan cara menarik tanganku yang sedang beranjak dari dudukku.

“aku mau main di atas situ. Kamu liat deh. Kalau duduk di atas bebatuan situ.. pasti enak.. terus kita bisa lompat-lompatan di sana sambil bernyanyi kayak yang di kartun-kartun Disney”, ujarku semangat dengan aura “childish ku itu”

“jangan… bahaya main disana.. kita gak pernah tau gimana arus sungai… sekarang keliatan tenang. Tapi bisa sewaktu-waktu aja deras. Guruku aja pernah bilang.. air tenang menghanyutkan…”, Vano yang sangat dewasa itu melarangku. Terus menerus melarangku.

Sampai akhirnya dia keabisan akal dan membiarkanku bermain di bebatuan sungai itu. Akupun mengajaknya melompati bebatuan yang ada disana.

Memilih batu paling besar untuk kududuki. Dan mengayunkan kakiku untuk bermain di sana. “risa.. firasatku gak enak nih.. kita balik yuk.. nanti kakak kamu sama papa kamu nyariin lho”, bujuk Vano yang kutahu dia khawatir bermain di air ini.

Aku mengabaikan bujukan Vano.. terus bermain air di aliran sungai tersebut.

Hingga akhirnya arus sungai menghantam kami dari belakang. Vano berusaha menolongku. Vano pandai berenang. Beda jauh dengan diriku. Dia terus berusaha membawaku ke tepian. Sampai akhirnya, untung saja kami selamat.

Kami berdiri di tepi sungai. Aku benar-benar shock dengan apa yang baru saja terjadi. Vano mengajakku pulang. Kali ini, tanpa berpikir panjang aku menurutinya.

Tetapi…

“vanooooo!!! Vanooo!!”, aku berteriak sekencang aku bisa. Aku sungguh tak percaya. Vano terpeleset dan kembali jatuh ke dalam arus sungai yang sangat deras. Aku berusaha membantunya. Tetapi tidak bisa. Aku lihat vano berhasil bertahan dengan memeluk salah satu bebatuan di sana. Sedangkan aku, berlari menjauh. Mencari pertolongan.

Untung saja sungai ini tidak jauh dari kompleks vilaku dan Vano. Berbeda dengan taman yang kutemukan kemarin malam.

Aku terus berteriak kepada siapa saja yang lewat di hadapanku. Sampai akhirnya mereka percaya, mereka mulai berlari ke arah sungai. Sedangkan papaku. Tiba-tiba saja mendekapku.

“risa..? ada apa? Udah.. papa denger tadi kamu ngomong apa. Kamu sini aja ya. Arus sungai lagi berbahaya. Ada aliran air kiriman.. bahaya..”, aku terus mengisak tangisku. Kak reno memelukku. Papaku berlari bersama kerumunan orang ke arah sungai.
Sedangkan aku menangis di dalam pelukan kak Reno. Sangat deras tangisanku. Kak reno mencoba menyuruhku tenang. Tetapi aku tidak bisa tenang. Rasanya aku ingin kembali ke sungai itu, dan menukar posisiku dengan Vano. Sungguh…


Vano…

Aku..

Meminta maaf.





,,
to be continued



2 comments:

Nabilla Ghina Z. mengatakan...

Lanjutannya kapan kak? Mana lanjutannya? (maksa banget)
Ditunggu lanjutannya. :D

nurul sora mengatakan...

ehehe. ini lagi diedit ulang lanjutannya
*lanjutan yang awal dulu gak ngalir ceritanya. ini baru sampe part dua. mau di post =) *tapi part 2 nya juga belum completed sih

Posting Komentar

Mohon kritik & sarannya yang membangun...
jangan menjatuhkan, ataupun semacamnya.
Terima kasih atas partisipasinya ^^

Related Posts with Thumbnails