Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

7 Tahun Untuk Senyuman, Arisa [part 3]




,,

Hari.. sabtu. Hari kepulanganku. Dan sabtu, hari yang sama seperti hari dimana Vano mengalami kecelakaan. Entah mengapa.. aku semakin merindukannya.

Sudah hampir empat hari aku di sini. Berharap.. entah harapan apa yang kutanam sesungguhnya. Tetapi, harapan ini sungguh besar. Harapan aku dapat menemuinya lagi. Menemui Vano, yang sampai detik ini masih sangat kusayangi.


Aku menengok ke luar. Ke arah jendela, aku melihat semak-semak dimana Vano suka menjemputku malam-malam, atau dimana ketika waktu kosongku, dan mengajakku pergi ke tempat yang menakjubkan.

Aku pergi menjauh dari jendela tersebut. Menghampiri dimana koperku dan koper seluruh keluargaku dikumpulkan. Entah apa tujuanku kemari. Tetapi akhirnya aku lebih memilih pintu keluar. Dan aku membiarkan kakiku terus melangkah kemana ia ingin pergi.
Aku, sekarang berada di depan pintu keluar. Seluruh keluargaku sedang sibuk masing-masing dengan urusan “packing”nya. Aku sendiri disini, mengingat dengan pasti kejadian 7 tahun lalu. Ketika Vano dengan semangatnya mengajakku pergi ke lokasi lokasi menakjubkan. Dan aku sekarang.. kembali melamunkan kejadian itu..


“grusak.. grusak..”, aku tersadar dari lamunanku. Semak-semak tempat Vano biasa bersembunyi sekarang berbunyi.


“eh…”, satu reaksi yang berisi berbagai makna untukku. Aku sungguh berharap sesuatu yang rasanya tidak mungkin.

Akupun melangkah melewati semak-semak itu. Berdiri di suatu lokasi, lokasi kemana ke kiri adalah ke tempat dia mengajakku ke tempat “taman rahasia” itu, dan ke kanan adalah tempat dimana Vano….

“kemana harusnya aku melangkah sekarang?”, tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba saja aku sekelebat melihat seorang anak kecil berlarian. Dia mirip Vano. Dia berlari ke arah sungai itu..

Aku spontan mengikuti anak kecil itu. Entah apa yang kupikirkan, tanpa alasan aku mengikutinya. Hingga sekarang aku sampai persis di sebelah tempatku bermain dulu dengan Vano, di pinggir aliran sungai.

“Vano.. kalau sekarang aku memaksakan kehendakku bermain lagi di aliran sungai apakah kau akan menolongku? Kalau kau sayang padaku. Kuharap ya.. kau mau menolongku”, pikirku bodoh. Sambil terus membiarkan kakiku melangkah mulai hendak masuk ke dalam aliran sungai.

*grep*, tiba-tiba aku merasakan tangan kiriku digenggam oleh seseorang. Aku sungguh sangat tercengang “siapa dia? Siapa ini yang tengah menggenggam tanganku?

Mungkinkah….”

Aku.. sungguh tidak berani menoleh. Tapi, aku harus memberanikan diri menoleh.
Akupun menoleh.. menggerakkan kepalaku ke arah kiri.
Dan…

“apa….?”, aku sungguh sangat tercengang. Melihat siapa yang kupandangi saat ini. Siapa yang sedang menggenggam erat tanganku.

“Ya Tuhan.,. inikah mimpi?”

Jantungku berdegup kencang.. amat sangat kencang. Sejenak kulupakan untuk apa aku ke tempat ini sebenarnya. Aku masih terharu tercengang.. ter… ah! Aku benar-benar tidak tau bagaimana harus menyebutnya. Yang jelas.. hatiku sangat tidak karuan.. sangat bahagia.. mendapati siapa yang ada di hadapanku saat ini…

“Mama….”, bisikku pelan.

Mamaku, tersenyum.

Air mataku berlinangan jatuh perlahan. Aku memeluknya, memeluknya sangat erat. Aku memang rindu Vano, sangat rindu. Tetapi, ini mamaku. MAMAKU!

Tangisku benar-benar pecah. Mamaku membalas pelukanku dengan sangat erat juga. Berkali-kali mengecup keningku. Aku sungguh tidak ingin melepaskan pelukan ini.

……………………..
“Risa…”, suara mama memecahkan suara tangis bahagiaku dengannya.

Aku melepas pelukanku. Menghapus air mataku. Aku memandangi wajah mama. Wajah yang kuyakin aku masih sangat mengenalnya. Walaupun selama 14 tahun ini aku hanya melihat wajahnya dari selembar foto.

“Risa… sebelum mama menyampaikan yang lainnya, mama mau bilang sama Risa.. “, perkataan mamaku terputus. Aku terdiam. Sampai mama melanjutkan perkataannya.

“Vano.. kamu kesini cari Vano kan?”, aku semakin tercengang dengan perkataan mama. Entah mengapa, detik-detik ini adalah detik yang begitu mencengangkan bagiku.

“Vano… vano menitipkan ke mama.. salam.. salam untukmu Sa.. “, perkataan mama semakin tidak kumengerti.


“Vano bilang, mama harus kembali pulang. Pulang.. ya pulang.. ke rumah dimana ada kamu sama papa. Vano juga bilang ke papa.. maafin Vano.. yang sempat merebut papa kamu selama tiga tahun sepuluh tahun lalu. Tetapi, tujuh tahun belakangan ini Vano koma.. di rumah sakit. Tapi, setelah tujuh tahun dia terlelap di sana.. dia bangun.. seminggu lalu tepatnya. Pas papa kamu juga datang ke rumah sakit. Bercerita soal kamu yang selalu mengunggu Vano.. ya. Vano.. vano kakakmu. Anak dari lelaki yang pernah menikah dengan mama sebelumnya. Berpisah karena bercerai. Dan setelah 4 tahun kami bercerai, dan Vano ikut dengannya.. dia meninggalkan dunia. Sehingga membuat mama harus mengurus Vano. Dan papamu.. dia tidak mau menerima Vano.

Tapi.. itu masalah sepuluh tahun lalu sa.. beda dengan tujuh tahun lalu. Ketika papa kamu panic menjenguk Vano yang dalam kondisi kritis di rumah sakit. Bertemu mama, dan selama tujuh tahun ini selalu bertemu mama dan menjenguk Vano. Dia gak mau bawa kamu. Takut kamu sedih. Tapi, setelah seminggu lalu.. papa sama mama sama-sama tersenyum untuk Vano. Dia bangun dari tidurnya.. dan ingin bertemu kamu lagi.. di.. tempat ini.. saat ini juga”, jelas mama sangat panjang, yang membuatku tidak bisa berkata apapun bahkan sepatah katapun.

“Risa….”, sapa kak Vano yang masih dengan kepala diperban. Wajah masih sayu berdiri di belakang mama. Memanggilku.. seperti tujuh tahun lalu.

Sekarang giliranku berlari ke arahnya. Arah lelaki yang selalu kutunggu. Dan ternyata kakakku. Sungguh.. aku tidak bisa melupakan hari ini. Hari dimana, gerbang kebahagiaanku seakan benar-benar terbuka untuk selamanya. Tinggal bersama papa dan mamaku yang sudah kembali. Setelah dan dengan tujuh tahun kesedihanku menunggu kak Vano.. yang ternyata.. terlelap terbaring dalam tidur panjangnya.


----end----


Originaly by: Rr Wahyu Nurul Fitri R
Jakarta, Bintaro
8th July 2010
4.03 am

Selengkapnya...

Sabtu, 03 Juli 2010

7 Tahun Untuk Senyuman, Arisa [part 2]





,,

Tiga hari berlalu sudah sejak kejadian itu. Sejak saat itu aku selalu murung di kamar dan tidak mau keluar. Bahkan untuk makan sekalipun.

Sungguh, kali ini aku benar-benar tidak mau kehilangan orang yang paling kusayangi lagi. Sungguh tidak.

Entah mengapa, aku merindukan mama. “dimana mama sekarang sebenarnya”, isakku dalam tangis. Aku sungguh sangat merindukan mama.

Terakhir kali aku bertemu dengan mama adalah 7 tahun lalu. Ketika aku berumur tiga tahun tepatnya. Mamaku bercerai dengan papa, dengan alasan yang sampai sekarang tidak pernah kuketahui. Atau bahkan, aku memang tidak mau mencari tau.

Papaku selalu menampilkan wajah murung jika aku menyinggung mama di depannya. Entah mengapa, aku merasa pertengkaran yang menyebabkan mereka bercerai 7 tahun lalu bukanlah pertengkaran yang disebabkan mereka saling benci. Karena kuyakin, mereka masih saling mencintai sampai sekarang. Papaku, dia seorang yang yang tampan. Kata orang juga dia adalah pengusaha sukses. Dia memiliki sebuah perusahaan besar, yang dibangunnya sejak dia kuliah.

Dengan kriteria orang seperti papaku, aku yakin pasti banyak yang menyukainya. Tetapi, papa tidak pernah membawa wanita lain untuk dijadikan istrinya. Atau bahkan, aku saja tidak pernah melihat seorang wanita lain selain mama dekat dengannya. Pernah, suatu hari aku masuk ke kamar papa. Aku menemukan foto mama masih tergeletak di atas tempat tidur papa. Aku yakin, papa baru saja memandanginya. Aku tau, mungkin ada suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan waktu itu. Dan kemungkinan, aku akan menyakiti hati papa jika aku bertanya apa yang terjadi 7 tahun lalu.

Sejak peristiwa 7 tahun itu, aku tidak pernah bertemu dengan mama. Bukan karena papa melarangku atau apa. Tetapi, aku memang tidak pernah memintanya. Hmm, sebenarnya pernah. Aku ingat, ketika umurku 5 tahun aku sangat merindukan mama. Tetapi, ketika aku bertanya soal mama, papa justru berwajah muram dan meninggalkanku pergi. Sejak saat itu, aku tidak pernah bertanya lagi. Aku sangat sayang sama papa. Dan mama? Aku tau, mama pasti punya alasan untuk tidak bertemu denganku.

Walaupun begitu…

Saat ini aku sangat membutuhkan mama! Sungguh sangat membutuhkannya!
Walaupun 7 tahun aku tidak bertemu dengannya. Dan terakhir bertemu aku masih dalam usia sangat dini. Aku sangat tau. Mama paling pandai menenangkanku di saat aku gundah seperti ini. Mamaku mirip sekali dengan Vano, mereka adalah 2 orang yang kusayangi. Mereka sangatlah pandai melunturkan suasana sedih seperti ini. Lain seperti papa maupun kak Reno. Aku tau, walaupun mereka menyayangiku. Tetapi, mereka mempunyai sifat yang pasif. Yah.. pasif.. sama sepertiku.

Aku mengisak tangisku lagi. Kali ini aku melipat kedua kakiku dan memeluknya di atas tempat tidurku ini. Aku berpikir…

“andai saja aku bisa lebih ceria seperti Vano. Bisa cepat tanggap sepertinya.. mungkin sekarang aku tidak hanya menangis seperti ini di kamar. Tanpa melakukan apapun..”
“vano.. jika kau ada di posisiku.. kau akan berbuat apa? “, tangisku semakin pecah. Aku semakin tidak sanggup menahan air mataku untuk jatuh semakin deras.

Dan kak Reno… entah perasaan atau bagaimana. Dia seperti tau aku sedang menangis, dia langsung masuk ke kamarku. Duduk di atas tempat tidurku. Memelukku. Tapi.. masih dengan tanpa kata apapun.







,,

Aku menarik selimutku. Sepertinya tadi aku ketiduran ketika dipeluk oleh Kak Reno. Aku sangat bingung ketika melihat tas koperku sudah rapih di sebelah pintu kamar. Entah siapa yang membereskannya. Aku bingung.

Aku berjalan menuju pintu kamar, menarik handle pintu yang berwarna kuning keemasan ini dan keluar. Kulihat sudah beberapa tas milik papa, om Adri, dan tante Fira serta kak Reno, sudah rapih berjejer di sebelah meja makan. Entah ada apa.. mungkinkah aku kembali sekarang ke Jakarta? Dalam keadaan aku belum bertemu dengan Vano??

“risa? udah bangun?”, ujar Kak Reno lembut.

“iya.. kok koper-koper udah pada rapih kak? Kita mau ke Jakarta? Vano.. vano udah ketemu???”, tanyaku antusias.

“hmmm. Udah sa.. sekarang dia udah di rumah sakit. Tadi, pas kamu nangis.. ternyata vano ditemuin. Dia terdampar di pinggiran aliran sungai abis ditelusurin.. “, kak Reno berbicara dengan tutur yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. Mungkin agar aku tidak menangis.

Tapi.. mana bisa aku tidak menangis?!

Air mataku spontan terjatuh dan deras. Sepertinya kerjaanku tiga hari ini hanya menangis dan menangis.

Dan kak Reno.. lagi-lagi.. dia memelukku.




====================================================================


“HEI!!”, teriak kak Reno dari balik punggungku membuyarkan segala lamunanku 7 tahun yang lalu.

“kakak!”, balasku.

“hehey.. ngelamun aja sepupu gue yang satu ini.. ckckck. Ngelamunin apa coba?”, celetuk Kak Reno sambil berdiri di sebelahku.

“gapapa kak.. Cuma lagi inget sesuatu…”, jawabku ragu.

“sesuatu… Apa Vano?”, kakakku menebak dengan sangat tepat. Dia tersenyum lebar padaku. Entah apa maksudnya. Mungkin, kakakku berusaha mengalihkan topik. Tetapi pasif dia keluar. Sehingga dia kembali masuk ke dalam rumah. Sungguh kehadiran yang tidak terlalu bermanfaat.

Dan aku?

Kembali menatap bulan, aku masih menyebut nama Vano… sahabat kecilku yang tidak pernah bisa kulupakan..

Vano.. bagaimana kabar kamu sekarang?




to be continued





,,

Selengkapnya...

Selasa, 29 Juni 2010

7 Tahun Untuk Senyuman, Arisa [part 1]


Rembulan sangat besar di hadapanku. Menghadap ke arah bumi.. sangat terang cahayanya.

Udara dingin serta meta menyelimuti tubuhku. Seperti melengkapi indahnya malam terang bertabur bintang ini. Yah.. sangat dingin udara ini. Sunyi.. tertangkap oleh telingaku sayu-sayu suara jangkrik serta samar-samar suara orang berteriak “goal” dan juga suara seperti kesal terhadap sesuatu.

Mungkin itu suara om dan papaku serta kakak sepupuku dan yang lainnya yang sedang berhuforia sorak sorai menikmati meriahnya world cup tahun ini.

Sedangkan aku?

Aku lebih tertarik menikmati indahnya malam di tempat ini. Dengan bintang yang berkerlap-kerlip. Aku sangat merindukan suasana ini. Suasana dingin.. berkerlip bintang, yang membawaku ke dalam ingatan 7 tahun lalu. Ketika aku berumur 10 tahun.


=======================================================

“arisa…! Risa risa risaaa…”, teriak Vano dari bawah teras vila ku di puncak membuyarkan lamunanku. Vano, anak lelaki yang sudah kukenal sejak 3 tahun lalu ketika aku berlibur ke sini.

“ayo main.. kamu diem-diem aja sih… aku mau liatin tempat bagus nih…”, teriak Vano kembali.

“iya… aku turun.. sebentar ya”, teriakku dengan suara yang tidak begitu keras. Aku melangkah masuk kembali ke dalam vila. Mencoba mengunci kamarku dan mengambil kuncinya, agar setidaknya mereka mengira aku sudah tertidur lelap.

Aku perlahan menelusuri tangga, aku rasanya seperti maling di dalam vila keluargaku sendiri.

Sekarang setelah mengendap-ngendap dan berhasil keluar rumah. Aku menemui Vano, sahabat kecilku yang manis. Dia tiga tahun lebih tua dariku. Dia selalu mengajakku bermain ketika aku kesepian berada di sini.

“risa.. sini..!”, bisik Vano sambil menarik tangan kananku.

Aku menuruti Vano. Dia menarikku ke tempat yang tidak kuketahui. Melewati semak-semak. Dan menginjak reumputan yang basah karena dinginnya malam.

“nah.. ini dia tempat yang mau kuliatin.. dudu di batu itu yuk!”, setelah melewati berbagai macam tanaman-tanaman yang menghalangi perjalanan kami. Akhirnya kami sampai pada sebuah tempat yang tidak cukup luas. Disana ada batu besar dan juga taman kecil. Tempat ini seperti taman rahasia di buku-buku yang pernah dibacakan mamaku ketika aku kecil.

Sekarang aku berada di atas satu-satunya batu besar di tempat ini. Duduk bersama Vano. Teman kecil yang tidak pernah kuberitahu pada papaku, dan tidak pernah bisa kukenalkan kepada mamaku.

“sekarang.. kamu bisa lihat bintang lebih jelas dari sebelumnya. Kamu liat? Bulannya terang.. bagus ya?”. Aku mengadah ke atas. Melihat langit begitu indah.. bulan sangat terang bertaburan bintang. Aku serasa bagai sherina di film petualangan sherina yang sedang berada di observatorium boscha bersama sadam sekarang. Ya.. aku sherinanya.. Vano adalah sadam. Hanya saja.. Vano jauh lebih baik dibandingkan sadam di film tersebut.

“Vano.. ada bintang jatuh!! Kita berdoa ya”, aku langsung memejamkan mata dan berdoa dengan sangat semangat. Vano nampaknya pun ikut berdoa.

“sa.. kamu doa apa?”, tanya Vano seusai kami selesai berdoa.

“rahasia.. hihihi”, jawabku sok misterius.

“hmmm. Oke.. kalau gitu,. Aku aja yang certain doaku ya? Jadi, aku itu doa supaya aku akan selalu bersama seorang putri yang selalu diceritakan mamaku 3 tahun belakangan ini. Putri itu selalu kesepian. Dia sangat suka cerita dongeng, dan juga cerita rakyat. Salah satu cerita favoritnya adalah cerita ‘secret garden’ aku sangat ingin selalu bersama dia. Makanya aku selalu cari dia setiap tahun”, jelas Vano sangat panjang.

Aku hanya terdiam terkagum mendengar penjelasan Vano. Vano adalah sosok yang unik di mataku. Dia baru duduk di bangku kelas 2 smp. Tetapi, dia amat sangat dewasa di mataku. Tutur bicaranya, bagaimana dia menatap. Mengajakku bermain. Entah kenapa, aku sangat dekat dengannya. Aku sangat sayang dengannya.


,,


“pletak”, tiba-tiba saja aku melihat batu kecil terlempar di hadapanku. Aku menoleh. Aku melihat Vano yang sedang mengumpat di balik tanaman mengayuhkan tangannya ke arahku. Mungkin dia mengajakku bermain.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Akupun mengecek kakak sepupuku kak Reno di dalam. Dia sedang asik bermain PS 2 nya. Kurasa, tidak apa kalau aku pergi sebentar bersama Vano.

Aku berlari ke arah Vano. Lagi-lagi seperti biasa aku mengikuti kemana dia membawaku pergi. Entah kenapa aku tidak pernah merasa takut bersamanya. Aku selalu nyaman dengannya. Jauh lebih nyaman dibandingkan saat aku bersama Kak Reno yang juga seusia dengannya. Entah kenapa.. aku sangat sayang dengan kawan kecilku yang hanya bisa kutemui setahun sekali ini.


…..
Kali ini aku dibawa Vano ke tepi sungai. Alirannya tenang. Banyak bebatuan besar di tengahnya. Vano mengajakku duduk di samping aliran sungai tersebut. Tetapi, aku amat sangat ingin bermain air dan duduk di atas bebatuan indah itu. Sungguh… tempat ini amat sangat indah.

“risa! Kamu mau kemana?”, Vano menahanku dengan cara menarik tanganku yang sedang beranjak dari dudukku.

“aku mau main di atas situ. Kamu liat deh. Kalau duduk di atas bebatuan situ.. pasti enak.. terus kita bisa lompat-lompatan di sana sambil bernyanyi kayak yang di kartun-kartun Disney”, ujarku semangat dengan aura “childish ku itu”

“jangan… bahaya main disana.. kita gak pernah tau gimana arus sungai… sekarang keliatan tenang. Tapi bisa sewaktu-waktu aja deras. Guruku aja pernah bilang.. air tenang menghanyutkan…”, Vano yang sangat dewasa itu melarangku. Terus menerus melarangku.

Sampai akhirnya dia keabisan akal dan membiarkanku bermain di bebatuan sungai itu. Akupun mengajaknya melompati bebatuan yang ada disana.

Memilih batu paling besar untuk kududuki. Dan mengayunkan kakiku untuk bermain di sana. “risa.. firasatku gak enak nih.. kita balik yuk.. nanti kakak kamu sama papa kamu nyariin lho”, bujuk Vano yang kutahu dia khawatir bermain di air ini.

Aku mengabaikan bujukan Vano.. terus bermain air di aliran sungai tersebut.

Hingga akhirnya arus sungai menghantam kami dari belakang. Vano berusaha menolongku. Vano pandai berenang. Beda jauh dengan diriku. Dia terus berusaha membawaku ke tepian. Sampai akhirnya, untung saja kami selamat.

Kami berdiri di tepi sungai. Aku benar-benar shock dengan apa yang baru saja terjadi. Vano mengajakku pulang. Kali ini, tanpa berpikir panjang aku menurutinya.

Tetapi…

“vanooooo!!! Vanooo!!”, aku berteriak sekencang aku bisa. Aku sungguh tak percaya. Vano terpeleset dan kembali jatuh ke dalam arus sungai yang sangat deras. Aku berusaha membantunya. Tetapi tidak bisa. Aku lihat vano berhasil bertahan dengan memeluk salah satu bebatuan di sana. Sedangkan aku, berlari menjauh. Mencari pertolongan.

Untung saja sungai ini tidak jauh dari kompleks vilaku dan Vano. Berbeda dengan taman yang kutemukan kemarin malam.

Aku terus berteriak kepada siapa saja yang lewat di hadapanku. Sampai akhirnya mereka percaya, mereka mulai berlari ke arah sungai. Sedangkan papaku. Tiba-tiba saja mendekapku.

“risa..? ada apa? Udah.. papa denger tadi kamu ngomong apa. Kamu sini aja ya. Arus sungai lagi berbahaya. Ada aliran air kiriman.. bahaya..”, aku terus mengisak tangisku. Kak reno memelukku. Papaku berlari bersama kerumunan orang ke arah sungai.
Sedangkan aku menangis di dalam pelukan kak Reno. Sangat deras tangisanku. Kak reno mencoba menyuruhku tenang. Tetapi aku tidak bisa tenang. Rasanya aku ingin kembali ke sungai itu, dan menukar posisiku dengan Vano. Sungguh…


Vano…

Aku..

Meminta maaf.





,,
to be continued



Selengkapnya...

Rabu, 13 Januari 2010

suratan terakhir dari.. ku...


"bagaimana kondisinya dok?"
dokter tersebut menggelengkan kepalanya. wajahnya nampak pasrah. dokter tersebut memasukkan stetoskopnya ke dalam saku jubah putih sebelah kanannya. sedikit menepuk pundak tante Inge... dan pergi meninggalkannya begitu saja.
tante Inge... dia sedikit menangis. mengintip sedikit ke dalam ruangan, kemudian memasukinya.
sedang aku? mengintip dari balik lubang. tante Inge menggenggam tangannya kuat kuat. seakan mentransfer kekuatan untuknya. dan aku? menjatuhkan karangan bunga yang kubawa. kemudian lari menjauh. beserta tetesan mata yang tak tertahankan.


..............................
Bucha... panggilan sayang ku untuk Nadia Bunga Syafilia. Sahabat sejatiku.
Bukan satu, dua hari aku mengenalnya. Aku telah mengenalnya sejak aku di bangku sd. Kelas 3 SD tepatnya. Aku ingat... aku adalah anak yang badung waktu itu. Perilaku ku seperti anak tak punya rumah tak punya aturan. Penampilanku seperti anak laki-laki... ya.. aku ingat betul.
Aku yang murid pindahan dari sekolah buangan di pinggiran kota. Tiba-tiba saja pindah ke sekolah ternama yang terdiri dari berbagai murid cerdas, anak dari para pejabat mungkin. Yang kutahu waktu itu, itu adalah sekolah orang orang menengah ke atas.

Sedangkan aku? hanya seorang anak terbuang, yang baru saja ditemukan oleh orang tuanya. Yang telah kehilangan anak setelah delapan tahun lamanya. Dan aku? hidup menggelandang ke sana dan ke sini. Di pinggiran kota. Terkadang makan ataupun tidak. Dan merupakan suatu kebetulan yang memang sudah direncanakan Tuhan... kakek Tio dia yang merawatku sejak kecil mengenal salah satu kepala sekolah SD di pinggiran kota. Yang dapat memberikanku pendidikan yang layak melalui program murid berbakat waktu itu.

Ketika kakek Tio menghilang dari malamku waktu itu. Ketika ada pembersihan kota. Aku yang terbangun sudah berada di halaman mushola, terbaring tanpa alas. Tanpa siapapun. Kehilangan kakek Tio... aku masih ingat. aku menduduki kelas 2 sd waktu itu.

Hidupku sulit setelah kehilangan kakek Tio. Memang.. sebelumnya bukan berarti hidupku senang dan bermewah megah. Kami hanya gelandang kecil di tengah kota yang hidup nomaden karena tak punya tempat tinggal dan penghasilan yang jelas. Tetapi kakek sangat sayang padaku. Sehingga akupun tenang saja dengan kehidupanku. Sampai akhirnya aku harus menghadapi semuanya sendirian. Mengerti arti tak mengetahui siapa orang tuaku.
Ya... aku ditemukan kakek Tio di jalanan. Menurutnya, aku diletakkan oleh orang yang mengendarai motor, lalu dia melesat dengan cepat. Tak tau siapa dia. Tapi, kakek Tio selalu meyakinkanku... dia bukanlah orang tuaku.

Ketika itu... aku harus hidup sendirian. Mengejar prestasiku tanpa ada siapa yang menyemangati. Hanya sekolah yang kupunya. Agar aku dapat menemukan kakek Tio.. ataupun orang tua ku lagi.
Hingga akhirnya tak disangka.. aku dapat menemukan siapa orang tuaku itu.. ketika aku duduk di bangku kelas 2 sd. Ketika ada pemeriksaan darah bergilir.
Entah bagaimana, kedua orang asing itu meyakinkan aku. Bahwa akulah anak mereka. Mereka nampak asing bagiku. Mereka berdandan bagai ratu dan raja. Wangi bagai bunga. Dan mobil mereka mewah seperti istana.
Sungguh. Tiba tiba saja di tengah jam istirahatku, aku dipeluknya. Oleh seorang wanita tinggi, cantik, dengan rambut terurai dan gaun indahnya. Dia menangis memelukku. Mengelus rambutku dan sesekali mengecup keningku.

Dan aku... hanya teerdiam heran.

Siapa dia? wanita yang tak kukenal.

Seorang pria gagah di sampingnya pun ikut pula mengecup kepalaku. Menjelaskan kata-kata yang tak kumengerti. Tapi yang kutahu.. mereka meyakinkanku, bahwa aku adalah anak mereka yang telah lama hilang.

Akhirnya, mereka mengajakku.. menggandengku ke arah keluar sekolah. Sedikit berkata kepada para guru waktu itu. Dan akupun pergi dengan mobil mewah yang lebih mirip dengan istana bagiku. Mereka pun membawakanku baju, membelikanku segala yang kutunjuk. Dan juga, mendandaniku menjadi seseorang yang menurutku... bukan aku!
mereka membelikanku makanan.. makanan yang tak kuketahui makanan apakah itu. Dan tak pernah sekalipun kumakan sebelumnya.
Mereka hanya terkadang saja tertawa melihat aku makan. Dan tersenyum sambil kadang mengelap wajahku yang sepertinya ternoda sesuatu.

Aku... mulai nyaman dengan kehadiran mereka.

Mereka seseorang yang sangat baik di mataku. Akupun telah berhasil diyakinkan mereka, aku anak mereka yang hilang.

Akupun mulai saat itu... tidak hidup menggelandang lagi. Aku hidup mewah. Tidur di kamar dengan kasur cukup empuk dan kamar yang luar biasa luasnya. Berbagai mainan terdapat di sana. Tetapi sayang, tampaknya kedua orang tuaku kurang bersikap ramah atas segala tingkah laku ku.

Sehingga ketika itu.. mereka memanggilkan aku seorang guru dari sekolah kepribadian. Yang justru membuat aku semakin "liar". Sungguh guru itu sangat menyebalkan. Sehingga saking kesalnya aku. Aku memotong rambutku sendiri menjadi super pendek. Benar benar sangat pendek. Hanya agar membuat dia kesal.

Dan orang tuaku? mereka sibuk. Mereka pergi ke luar kota ataupun Negri. Aku dipercayakan oleh orang orang kepercayaan mereka.

Aku disekolahkan di sekolah ternama. Mutiara namanya. Seragamku tak lagi putih merah. Berubah menjadi blus hijau, dengan rok kotak kotak hijau pula. Sebenarnya aku menyukai penampilan baruku itu. Tapi.. aku sungguh tak suka kelakuan guru kepribadianku itu. Dia membuatku kesal. Sehingga aku melakukan sebuah kesalahan fatal, yang membuat pada hari pertama aku masuk. Banyak yang kurang menyukaiku. Kecuali Bucha...
Dia tersenyum padaku, menawarkan sebangku dengannya. Dan membantuku mengikuti kurikulum yang ada. Yah.. dia sahabat pertamaku. Yang terbaik.

Kami selalu bersama, hingga akhirnya kami duduk di bangku kuliah. Bucha... seorang cewe feminin dengan tinggi badan dan berat badan proporsional. Dan dia, sangat cantik dan santun. Jauh beda dengan diriku. Terkenal tomboy, belalakan, tak pernah rapih, dan terkenal "ceplas ceplos". Banyak yang mengatakan aku seperti anak lelaki. Tetapi, untung saja... tak satupun mengatakan aku ini "lesbian" dengan Bucha... aku takut dia akan menghindariku jika itu terjadi.

Lagi pula, kurasa tak semudah itu orang mengatakan hal tersebut kepadaku. Akupun yang begini mempunyai pacar. Entah apa tujuannya para cowo itu memacariku. Tapi yang jelas, itu cukup untuk membuktikan bahwa aku tidak lesbi.

Aku dan bucha sangatlah akrab. Selalu sharing bersama. dan dia tetap menjadi teman terdekatku.
Sampai akhirnya 3 bulan lalu dia menyuruhku untuk berdandan feminin, seperti harapan semua orang. Tetapi aku tak mau, sampai akhirnya kami baikan. Tetapi dia tak mau lagi bersamaku. Entah kenapa... mungkin dia masih marah?

Tapi... kuketahui belakangan ini. Bucha sakit... sakit parah... ibunya menangis di hadapanku. Aku tak kuasa melihatnya. Aku pergi begitu saja. Sampai pikiran bodohku muncul. Bucha hanya berpura pura. Tapi ternyata tidak. Dokter telah mengatakan segala halnya pada ibu Bucha... dan.. aku mendengarnya.

Bucha... maafkan aku.

..........

Mendengar hal tersebut, aku berlalri langsung ke arah mobilku. Menyuruh pak supir untuk segera membawaku ke salon. Untunglah... rambutku sudah sedikit panjang sekarang. sehingga sedikit banyak dapat dibentuk. Akupun membeli berapa helai baju untuk kupakai sehari hari. Aku ingin mengubah penampilanku. Aku ingin membahagiakan bucha!
Dia menginginkanku untuk feminin.. aku akan feminin..
dia menginginkanku untuk menjaga sikap.. akupun akan menjaga sikap...
Bucha.. sungguh aku akan memberikan sesuatu yang kupunya yang dapat kuberikan agar kau tersenyum dan sembuh!
Aku tak ingin apa yang dikatakan dokter itu terjadi... aku...

tak sanggup.


================

Bucha... hari ini boleh keluar dari rumah sakit. Aku dan beberapa temanku mengantarnya kembali ke rumah. Aku senang melihat reaksi bucha... ternyata dia menyadari perubahan perilakuku.

Menurut dokter.. umurnya tidak lama lagi. Setidaknya hanya tinggal beberapa bulan lagi. Dan aku ingin membahagiakan sahabat kecilku itu sekarang. Yah. Kami sudah bersahabat lebih dari sepuluh tahun lamanya.

Kami kini... duduk di bangku kuliah. Di fakultas yang sama.

Bucha sakit. Tapi dia berusaha bersikap biasa. Mungkin dia menahan rasa sakitnya. Dia juga pergi ke kampus tanpa menunjukkan sedikitpun perbedaan. Walaupun terkadang dia terlihat pucat dan lemas.

Aku melihat bucha tidak tega. Begitu pula teman lainnya...

Beberapa kali,,, bucha bukannya memperhatikan kesehatannya.. justru memperhatikan sikap dan perilakuku. Dia mengkritikku dalam berbagai hal. Agar aku menjadi lebih baik. Mungkin... itulah yang ingin dilakukannya sebelum dia divonis memang sudah akan meninggal. Aku tak tahu.
Dan aku hanya menuruti saja keinginannya. Keinginan sahabat yang melebihi sahabat itu. Dia sudah seperti orang tuaku. Karena,., walaupun aku telah menemukan siapa orang tuaku.. Mereka jarang sekali di rumah. Apalagi mengurusiku. Dan aku.. anak tunggal mereka.

============

Hari ini adalah waktu control Bucha ke dokter. Aku semangat sekali menerima tawaran Bucha untuk menemaninya general check up. Ditemani pacarnya dan pacarku, aku mengendarai mobil Indra pacarnya ke arah rumah sakit.

Kali ini... dokter mengatakan ada sedikit harapan untuk Bucha sembuh. Aku bahagia. Tetapi, seusai mendengar hal baik itu.. sempat sempatnya Bucha bercanda "nda... tapi kamu gak akan berubah seperti dulu kan walau aku sembuh?".

aku sangat terkejut mendengar candaan Bucha saat itu. aku hanya dapat bisa berkata...
"bucha! apaan sih! jangan bercanda yang gitu ah.. aku kan takut. aku janji... aku berubah penyebab besarnya adalah harapan atas kesembuhanmu, dan berharap agar kau tersenyum. jadi... jangan pernah katakan hal seperti tadi lagi ya... aku sedih..."

Bucha tersenyum manis padaku. dan kamipun pergi keluar dari rumah sakit tersebut.

=========
Bucha membeli buah bersama Indra pacarnya. Mereka membeli buah di seberang jalanan. Aku percayakan Bucha pada Indra. Awas saja jika terjadi apa apa pada Bucha...
Sedangkan aku.. menunggu di pintu mobil bersama Ares.. pacarku.

Sampai akhirnya aku terkejut melihat Bucha.. jalan sendirian di tengah jalan besar dan hampir saja ditabrak oleh kendaraan besar...

Akupun berteriak dan ternyata tak sadar tubuhku ikut bergerak kemudian berlari ke arahnya "Bucha! awaaa."

"prang!"

bunyi pecahan kaca menggema ke dalam gendang telingaku. Dan seluruh jiwaku. Rasanya jiwaku tercabut mendapatkan bertemu kejadian yang baru saja terlewati. Aku tak tau harus bagaimana. Berbagai teriakan terdengar dari mana - mana. Dan aku sama sekali tak bisa berkata apapun.

Beberapa orang kudengar meneriakan namaku.
"nindraaaaa!!! ndaaa.....!!!"
histeris.

aku. tak tau. aku seperti berada di alam lain. Melihat jasadku sendiri berlumurkan darah. Melihat Bucha dan Ares menangis di hadapanku. Sedangkan segala perilakuku tak ada yang tau. Aku hanya terdiam tercengang.

dan... aku sadar. dan berkata untuk terakhir kalinya pada semuanya.

"mungkin ini adalah kalii terakhir aku berkata pada kalian... terima kasih sudah mencintai dan mau menerimaku apa adanya. sampaikan terima kasih dan maafku pada kedua orang tuaku. yang bahkan aku belum sempat memeluk mereka sekali lagi mungkin...
hubungi mereka...
kumohon...
dan untukmu Ares.. terima kasih sudah mencintaiku.
dan kau.. Bucha.. sahabat terbaikku. menurutku kau bukanlah sekedar sahabat biasa.. kau seperti Mentari yang menyinari gelapku. kau menunjukanku cara berperilaku dan bersantun dengan baik. Termasuk mengajariku untuk selalu rajin beribadah. Kau sudah seperti saudaraku., Bahkan orang tuaku... terima kasih Bucha...
kemarin.. kupikir kita akan berpisah. tapi ternyata kita bersama.. bahkan sampai aku pergipun. kau ada di sampingku.
tak kusangka.. justru aku yang pergi terlebih dahulu...
terima kasih bucha..
bahkan sampai saat terakhir hembusan nafasku pun.. sebelumnya kau sudah membuatku berhasil bertaubat dengan sukses... sungguh terima kasih..."


====Bucha====
Nindra... atau nda... sahabat kecilku yang seperti telah terbuang... mengatakan kata kata terakhirnya padaku. suratan terakhirnya padaku. Di atas pangkuanku. Dan aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa membimbingnya membaca dua kalimat syahadat untuk terakhir kalinya. Kemudian dia memejamkan matanya untuk terakhir kalinya.
Dia.. memberikan suratan terakhir yang sangat indah untukku. Perubahan yang sangat berarti... katanya berasal dariku. Padahal itu mungkin untukku. Karena sepertinya pun. Penyakitku mendadak sembuh. Dan aku... untukmu Nda... terima kasih.. atas surat berharga terakhirmu.


~end~


by:
Rr Wahyu Nurul Fitri R
Thursday, January 14th 2010
0:29 am
Selengkapnya...

its rainy... or...?


rintik... hujan.. mendung...
telah hilang segala mega semangatku untuk keluar rumah.
lenyap tak bersisa.
terkadang kutengok jendela kamarku, hujan telah reda. sekali aku merapihkan diri untuk keluar. turun kembali hujan yang lebih deras sebelumnya.

tak sekali dua kali.. kejadian itu terulang.
sampai akhirnya aku lelah dan berbaring di kasur tempat tidurku.

kujumput ipod touch kesayanganku dari meja kecil dibawahi kap lampu mungil yang mulai kunyalakan, karena mendung semakin pekat.
kuputar musik rock kesayanganku. mengusir kebosanan.

yah.. aku memang tidak tidak menyukai musik rock sebenarnya. tetapi, kali ini tak mungkin aku memutar lagu slow sekarang. bisa bisa mood ku makin memburuk, dan meneteslah air mata ke pipiku ini.

*zlep* tiba tiba ipod ku mati ditengah aku mendengar musik rock yang sedang asik asiknya. "aaah! tidak", aku hanya bisa berteriak sekeras kerasnya. dalam hati.
hmmm. aku lupa mencharge ipod ku sejak 4 hari lalu. hebat.

kebosananku semakin menjadi. sehingga kunyalakan saja radio tape ku. kuset gelombangnya hingga radio fm yang sering kudengar.
yah.. tetapi sayang. kali ini dia takkan menjadi radio favoritku lagi. radio tersebut justru memutarkan lagu sedih yang sangat menyebalkan bagiku saat ini.

"aaah...", aku mematikan radio tape ku segera. merebahkan badanku kembali di atas kasurku yang nyaman. kunyalakan ac ku yang tadi sempat kumatikan karena aku hendak untuk pergi.

ufff. aku membolak balik posisi tidurku. tidak jelas tanpa arah.

terkadang muncul ide ku untuk menyalakan laptop ku tersayang. ah.. tapi aku sungguh malas menyalakannya. sepertinya aku sedang kurang beruntung untuk melakukan sesuatu. mungkin lebih baik aku tidur sekarang ini... agar tak satupun kejadian menyebalkan muncul kembali.

...........................................

"kakak!!!!!", teriakan seorang anak kecil membangunkan ku. membuat mataku yang sudah terpejam hampir segera membawaku ke alam mimpi, kembali lagi ke alam nyata. membuat tubuhku yang sudah terbaring nyaman, terbangun dengan tegangnya.

"kakak!!", anak kecil itu memelukku. aku terheran.
"hehe.. kakak! apa kabar kak...?", anak kecil itu tersenyum manis.. manis.. sekali.

aku kembali tersenyum padanya.
yah.. dia anak kecil yang kukenal. adik kecil yang sudah kuanggap adikku sendiri. sudah sekitar 2 tahun aku tak bertemu dengannya. tak heran dia membangunkanku seperti tadi.
dia sekarang langsung menarikku untuk keluar rumah. aku menengok ke jendela ternyata cuaca telah cerah kembali.

aku tersenyum. sambil iya menarikku, aku menarik tanganku sedikit. dan menarik tas yang tergeletak di atas tempat tidurku.

......
matahari masih malu menampakkan sinarnya rupanya. lubang lubang cahaya masih terasa.
jalanan pun masih basah. bekas hujan tadi. aku.. dan rizka.. adik kecil yang kukatakan tadi masih berjalan dengan santai.

sesekali dia bercerita tentang sekolahnya di negri kanguru itu. bercerita pula tentang kakaknya, yang sudah tak kutemui sejak 5 tahun lalu.
aku jadi ingat... dulu aku pernah melakukan janji kecil dengan kakaknya. haha. janji yang konyol.

sedang aku berpikir tentang kakaknya. rizka mengajakku ke taman. membeli es krim keliling yang sedang mangkal di sana.

sekarang, rizka sedang membeli es krim. dan aku hanya berduduk duduk santai saja di bangku taman. aku jadi mengingat janjiku dengan kakaknya kemarin.. eh. maksudku 5 tahun lalu. kami berjanji untuk menjadi pacar ketika bertemu lagi nanti. hahaha. janji konyol. dasar. kami masih bocah smp waktu itu.

"hmmm... kira kira seperti apa ya.. wajahnya sekarang... hihihi", aku jadi senyum senyum sendiri membayangkan wajah kakak rizka sekarang seperti apa. "apa makin cakep ya... kalau dia ingat soal janji waktu itu..."

"hei. selly...", tiba tiba sesosok tampan sudah berdiri tegap di depan wajahku saat itu.

"rizki?!", dengan mudah aku mengenali wajahnya yang tampan. dan postur tubuhnya yang cukup tinggi. yah.. dia sedikit berdarah campuran.. kakeknya adalah orang Australia keturunan Arab. ah! silsilah keluarga yang sedikit membingungkan. hehehe...

"apa kabar? masih inget aja sama aku...", rizki menyodorkan tangannya.

"ah.. gimana mau lupa! haha. baru aja aku mikirin kamu.. soal jan..."

"selly! rizki! wah.. kalian berdua udah kenal toh?", tiba tiba saja farisha, sahabatku, muncul dengan rizka sambil menggenggam es krim cone.. masing masing satu.

"yah... aku yang malah mau nanya kakak berdua.. kok saling kenal? kalo kak selly sama kak rizki emang temen pas kecil... kalo kak farisha, sama kak rizki kan emang pacar... nah.. kalo kak selly sama kak farisha? kalian temenan yah?", anak kecil ini berkata polos. sedangkan aku tercengang mendengarkan kata katanya. dalam hati.. aku berkata "ternyata..cowo yang selalu farisha cerita bertemu dengannya di negri kanguru itu adalah rizki... aduh.. bisa bisanya aku berpikir bodoh tadi.. berharap di hari ku yang mendung ini ada sedikit kecerahan.. ternyata. pacar kecilku itu. malah menjadi pacar sahabatku sekarang ini... ah. dunia begitu sempit.huhu..."

akhirnya, aku yang tersadar dari lamunanku.. tersenyum pada farisha. menjelaskan pada rizka. dan kami berempatpun makan es krim bersama. yah.. aku sedikit minta es krim milik rizka. sedangkan rizki dan farisha.. hmm. bukan satu es krim. hanya saja.. rizki tidak mau makan es krim. dia sedang flu.
disela kami sedikit bercerita..


"rizki! lo ada di sini? wah.. kapan pulang?!", tiba tiba datang lagi satu tokoh yang tidak diduga.

"lho? lo juga ada di sini.. lo itu cewe yang kemaren numpahin es krim ke baju gw kan? hehe... ternyata lo temennya rizki juga kah? dunia ini sempit ya...", cowo itu mengenaliku. aduh.. aku sungguh malu padanya. belum sempat aku dan siapapun menjawab pun.. dia berkata...

"eh... kayaknya pas ipod kita jatuh kemarin.. ketuker deh. nih... gw kaget pas liat galeri sama save an videonya. lain semua.. hehe. tapi selera lagu kita sama ya..."

"eh...?", aku terdiam. ipod ku ternyata tertukar. dan aku tak sadar. belum lagi dia melihat galeri foto ku yang konyol di dalam ipod ku itu.. sekarang.. aku tak tau harus malu atau bagaimana.

yang jelas.. aku senang.. sekarang aku sedang berjalan pulang ke rumah hanya berdua dengannya, untuk mengambil ipodnya yang tertinggal di kamarku. hehe..
satu satunya alasan ku untuk keluar rumah tadi itu.. ya untuk mencarinya lagi di taman. mungkin saja dia mau "membalas dendam" karena aku telah menumpahkan es krim ke bajunya.

tapi ternyata malah... kami bertukar ipod, dan hmmm. nomor handphone! hehe...
memang benar... kata RA Kartini "sehabis gelap terbitlah terang..."
kutambahin deh!
"sehabis hujan.. datanglah sinar mentari! dan kuharap bukan saja pelangi, yang cepat hilang warnanya!" XDD

trima kasih Tuhan!!!



quote dari penulis
ah... akhirnya bikin cerpen teenlit lagi. hehe. lagi kepengen sih. ^^ padahal.. pengen bikin cerpen serius tadinya.
yaudah. selamat menikmati...
Selengkapnya...

Selasa, 12 Januari 2010

*garing*


test...test...
setetes dua tetes kebosanan mulai menjalar tubuhku, keningku, dan seluruh ragaku.

bosan... sungguh.
detik detik jarum jam yang berpindah tempat mulai terdengar "berteriak". kencang sekali suara mereka. ataukah situasi yang sangat sunyi di sini?

sepi... hufff.
semua orang tampaknya sedang sibuk bersama urusan mereka masing - masing. tidak ada yang sedang bercakap ataupun bercengkrama satu sama lainnya.

haha... lagi lagi aku tertawa garing "kresh. kresh"

*zing*... keheningan sekali lagi menjelajari seluruh tubuh dan lingkunganku.





sampai akhirnya...




"gdebrag gdebrug. klontang!", berbagai suara yang membuatku sangat terkejut datang. tak kuketahui suara apa sajakah

dan....



"HAPPY BIRTHDAY!"

tiba - tiba saja sejumlah orang sudah hadir di depanku. menyiramiku dengan sejumlah kertas yang kuyakin dipotongnya sebegitu kecilnya. sodoran cake berwarna putih seperti salju dihiasi buah buahan yang berariasi, dan sejumlah lilin di atasnya...
beserta nyanyian

"happy birthday to you... happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday... happy birhtday to you..."

aku hanya bisa tersenyum kecil sambil tercengang. masih terpesona dengan apa yang kualami sekarang ini.
surprise kecil yang indah.
dan akupun meniup lilinnya. dengan sepenuh hati. bersama make a wish yang berarti.
Selengkapnya...

Sabtu, 09 Januari 2010

Kotak Musik


"ingatkah kau? saat pertama aku menemukanmu di bawah pohon rindang siang itu? kau sedang menangis tersedu...
dan ingatkah kau? saat pertama kubertemu denganmu? kuperdengarkan kotak musik ini padamu... pertanda persahabatan kita.
dan taukah kau?
kau boleh memiliki kotak musik kesayanganku ini sekarang. tapi satu hal. jangan pernah lupakan aku. dan berikanlah kepadaku kembali suatu saat... kotak musik itu padaku.
ketika kita bertemu untuk ke-28 kalinya sama seperti ulang tahunmu.
hari ini.
karena aku, takkan memberikan pertemuan ke-28 itu padamu sekarang.
karna aku tak mau... jikalau ini terakhir ...
pertemuan terakhir kita, adalah ke-28 kalinya"

*Dito-sahabat terbaikmu*

kubaca... kubaca berulang ulang secarik kertas terakhir di dalam kotak musik indah ini. Berbentuk piano. Diikatkan dengan pita mungil. kertas mungil beserta tulisan indah yang mungil pula di kaki kotak musik tersebut.

hilir perlahan angin membawa rerumputan ladang ini semakin bergoyang, membawa pula air mataku pergi menjauh dari pelupuknya.


Aku.. masih tersenyum mendengarkan alunan musik benda kecil yang kupegang sekarang. Di atas padang rumput yang berharga. Tempat aku bertemu dengannya. Dito namanya. Sahabat terbaikku, yang bahkan tak pernah kuketahui dengan betul. Siapakah dia?



Dito- datang di saat aku menangis tersedu di bawah pohon apel merah yang sedang berbuah. Dia mendengarkanku alunan musik ini. Indah.

Terbiasa aku dengannya. Bertemu setiap sabtu menjelang siang dengan alunan musik piano mungil yang dipegangnya. Masih dengan senyum manisnya.

Umurku... masih 11 tahun saat itu. Dia sahabat pertama saat kepindahanku ke tempat ini. Tempat kecil di pegunungan, pedesaan yang indah dan bersih. Yang sempat kunodai dengan tangis sedihku di atas ladangnya, yang hijau menghampar luas. Jika pagi, akan kautemukan rerumputan yang masih basah berlumurkan embun pagi yang belum mengering. Jika siang, kau akan merasakan hilir angin sejuk merambati seluruh tungkukmu dan membawa helaian rambutmu pergi, dengan sinar matahari yang tidak terik. Dan jika malam, kau akan menemukan hamparan bintang di atasnya. Indah sekali. Dan kuingat...saat itu.. pertama ku memandangi sinar bintang di tempat ini... masih dengan Doni. dengan segala alunan musik benda mungil yang dibawanya.

Dan aku sekarang?
harus pergi meninggalkan tempat ini, Entah sampai kapan...
masih diiringi kotak musik peninggalan sahabat kecilku yang menghilang begitu saja, yang bahkan tak pernah kudapatkan satu helai pun potret wajahnya, tak kuketahui siapa orang tuanya, bahkan dimana dia tinggal.
Satu satunya yang menjadi bukti ia ada... segala ingatanku tentangnya.

___________________________________________
___________________________________________
Pesawat penerbangan menuju Indonesia telah diterbangkan. Dari daerah kecil nan indah di benua Amerika, aku sudah tamat sekolah. Meninggalkan berbagai kisah. Termasuk kisah sahabatku yang tak pernah kutemui lagi.

Aku kembali pulang Indonesia! pulang!
entah apa yang kurindukan dari negara ku ini... negara semasa kecilku. Bukan tempat aku tumbuh dewasa, dan belajar bersosialisasi. Bukan tempat dimana mempunyai banyak kenangan. Entah apa... tapi rasanya aku sangat ingin pulang.

........................................
........................................

"anna!", teriak girang tante Steffi. Adik ibuku.

aku memeluknya. Lama tak bertemu. Aku sangat merindukannya.
Tante steffi.. dia sudah seperti ibuku. Dia yang merawatku sejak aku lahir. Dikarenakan,menurut dokter, semasa aku kecil aku tak bisa menghirup udara yang begitu dingin. Pernafasanku belum begitu kuat. Maka, orang tuaku yang harus menetap di Amerika. Tempat kerja mereka, dan tinggal di daerah pegunungan. Mengurusi segala ladang dan perternakan yang mereka miliki disana, warisan kakekku yang memang orang asli sana.

Tante Steffi mempunyai tiga orang anak. Tetapi, ketiganya adalah laki laki. Maka dari itu, dengan senang hati Tante Steffi mengurusiku layaknya putrinya sendiri.

.........

Tante Steffi membukakan pintu kamarku. Masih pintu kamar yang sama dengan sewaktu aku kecil.


*to be continued. ~>maaf gaje jadinya. ngantuk soalnya
Selengkapnya...

Selasa, 05 Januari 2010

*special story for you* panic at birthday.




.........................
hening sekali kamarku ini. cahaya pagi perlahan menerobos masuk ke kamarku.
kulihat cahaya pagi itu membuka segala pori pori gordenku, sehingga nampak seperti sinar sinar kecil yang menusuk.

aku menarik selimutku.

aku beranjak dari kasurku yang masih nyaman untuk aku tidur lagi di atasnya. aku beranjak menuju jendela kamarku. menarik gordennya dan membuka sedikit jendela.
"huaaah", aku bernafas panjang seakan tak pernah menghirup udara pagi yang segar. aku melihat ke kanan dan ke kiri. suasana jalan depan rumah ku makin sepi. "hmmm...", kurasa lebih baik aku tutup saja jendelanya lagi. menikmati dinginnya ac kamarku ini, sambil memastikan tanggal berapakah sekarang.
"hah?! tanggal enam?! what the?!", aku sangat amat terkejut melihat jam digital ku itu menunjukan angka tanggal berapakah sekarang.
"tidak! tidak! tidaaaaakkk!!!", tak ada yang bisa kukatakan lagi selain 3 kata itu. ya. hanya tiga kata itu yang ada di benakku sekarang. "oh God!!! help me!!!"

aku hanya berputar kesana dan kemari. dari kamar berukuran 5 x 6 ini. berputar. "ah! dimana kaos kaki! eh bukan!! itu.. aduh.. apa ya... hmm. oiya! baju putih. celana hitam! ah! gimana ini...?! gue belum belajar sedikitpuuun!!"
"TAMAT"

**********
dengan sangat tergesa - gesa akhirnya aku berhasil mengantongi sedikit bekal untuk ujian nanti. yah... berhasil membaca setidaknya empat lembar catatan biofisika ku itu. yah.. ini dan itu.
aku juga berhasil mandi dalam waktu 15 menit saja. berhasil mencari baju hitam-putih ku. berhasil memasukkan kartu ujian, tempat pensil, kalkulator. dan yap! siap berangkat.

aku berlari keluar kamar. sedikit membanting pintu. berlari menuruni tiap anak tangga di rumahku. dan menuju meja makan untuk menjumput setidaknya satu dua helai roti tawar.

kulihat meja makan kosong. hanya ada beberapa helai roti dan beberapa selai. akupun akhirnya mengambil semua roti yang tersisa di atasnya. dan yap! lari menuju...
hmmm...
kemana lagi kalau bukan carport mobil!!!

*******
"pak! ayo berangkat sekarang! cepetan! aku udah terlambat ini! 30 menit lagi ujian! cepetaaan!!!", aku berteriak sekencang kencangnya kepada pak Karyo yang masih santai santai tidur, sambil tetap menenteng satu bungkus roti tawar yang tersisa di meja makan. Pergi tanpa pamit kepada mama dan papa. Tanpa melihat batang hidung si adik. Dan... ah! tak ada waktu memikirkan hal itu!!! aku sudah TELAAAAAT!!!!

"non? emang kita mau kemana?", pertanyaan pak Karyo sempat membuatku diam sejenak menutup pintu sebelah kiri belakang dari mobil berwarna hijau metalic yang selalu digunakan untuk membawaku ke kampus itu.

"hah? kemana? ke kampus pak!!"

"lho..? tapi..."

"udah cepetan! aku bener bener udah telat! tiga puluh menit lagi masuk! dan aku BELUM BELAJAR! aaaaah!!! tidak.", aku langsung membanting pintu. Pak Karyo pun lemas mendengar celotehanku. Dengan lemaspun ia masuk ke dalam mobil di bagian kemudinya. Yes! aku berangkat sekarang.

*****
sudah dua puluh lima menit aku terdiam di jalanan yang padat macet. dan ah.. tralala... sungguh mengesalkan. lima menit lagi ujian dimulai. tanpa persiapan. aku tidak mungkin telat.

akhirnya muncullah ide di benakku
"pak... aku turun disini aja ya?", sambil memeriksa semua barang bawaanku. dan menaruh helai roti yang tersisa di jok belakang ini.

"tapi non..."

"udah lah. hari ini aku bener bener keburu buru banget! aku turun ya... nanti aku pulang jam tiga sore...", akupun membanting pintu mobil. dan segera berlari menuju kampusku, yang masih jarak satu kilometer jika menelusuri jalan ini.

aku mengambil jalan pintas.

*****
setelah sekitar 500meter aku berjalan dan setengah berlari. aku sampai pada gerbang kampusku. kulihat suasana sudah sepi. kutengok jam tanganku. sudah menunjukan 9.45 menit. pantas saja. aku sudah telat sekitar 10 menit.
aku berlari menuju lift. untung saja lift terbuka di saat yang tepat. ku tekan angka lantai lima tempatku ujian.

sampai disana kulihat benar benar hening suasananya.
aku berlari menuju ruangan tempatku ujian. aku memasukinya. langsung duduk di bangku tempatku seharusnya.dan menarik kertas ujian dari meja pengawas.

aku duduk. memastikan semua peralatanku ada di tempat pensilku. dan menarik satu buah bolpoint dan tip-ex dari dalamnya.
aku membuka lembar jawaban. mengisi tiap bagian nama dan nomor mahasiswanya. Ya. dalam ujian itulah yang terpenting. nama mahasiswa dan nomor mahasiswa.

hmmm.. mata kuliah. jam kuliah....
semua telah kutulis rapih.

kutarik secarik kertas soalnya, dan....

"SURPRISE!!!"

aku bisa merasakan taburan kertas kertas yang dipotong kecil kecil menabuhi seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
aku tak tau mengapa.. ada apa ini...
kurasa ulang tahunku telah lewat hari kemarin. tanpa satupun anak yang mengingatnya. ulang tahun kecil bersama kue cake yang kubeli sendiri, dan lilin ulang tahun di atasnya yang kutiup di toko bakery itu sendirian.
karena bahkan keluarga ku sedang pergi keluar kota.

"eh... kok?", aku sangat heran.

"happy birthday ya say...", beberapa teman langsung mencium pipiku sambil menjabat tanganku.

setelah usai mereka semua menyalamiku. aku bertanya dengan herannya...
"kalian gak salah liat kalender kan? gue ultah kan kemarin... bukan sekarang?", teman temanku tercengang mendengarnya.semua terdiam.

"lo lagi mimpi ya na... coba lo liat jam lo. tanggal berapa sekarang?ini ultah lo! gimana sih?", inge justru menyuruhku memastikan tanggal berapa sekarang ini.

"tanggal....he?!", aku menengok jam tanganku. dan ternyata tanggal lima sekarang ini. bodohnya aku! hahaha.

"hahahhaa", seisi kelas tertawa...

ternyata mereka memang sudah mengatur jam di kamarku agar tanggalnya menunjukkan tanggal 6, dan mereka bersekongkol juga dengan orang rumahku, untuk mengkondisikan memang sekarang tanggal 6.

"makannya na... lo itu.. kalo mau ultah gak usah pesimistis gitu... jangan jangan semalem lo mimpi ultah sendirian suram gitu ya?", ujar Tami.

"hehe...", aku tak bisa berkata apa-apa lagi. hanya tersenyum manis. Apa yang dikatakan Tami semuanya benar. Bahkan, semua pun bisa memprediksikan aku akan datang ke kampus hari ini. tanpa ingat, bahwa hari ini justru hari ulang tahunku.

dan aku berhenti berpikir dan tertawa... ketika alunan musik gitar akustik datang menghampiri telingaku. menyanyikan lagu romantis.
dan ternyata...

Adri yang selama ini diam diam kutaksir... menyatakan cintanya padaku.

Ternyata... aku salah paham di hari ulang tahunku.
Terima kasih Tuhan... kau memberikan hari ulang tahun yang spesial seperti ini, padahal kemarin kemarin aku sudah berirasat buruk soal ini... terima kasih.



"genre kali ini jauh beda sama biasanya. genre kali ini murni cerpen teenlit. sama seperti cerpen cerpen pertama yang gw bikin.

inspirator cerpen kali ini adalah temen deket gw sendiri. dia ultah hari ini... tanggal 5 Januari. tapi kayaknya dia udah sibuk mikirin ini dari kemaren. jadi, gw pun merencakan surprise kecil buat dia. hehe.

abisnya.. berburuk sangka mulu di status fb nya sama temen temen deketnya sendiri. hahaha.
biarin deh.
will see aja ya.

met ultah ndi...

besok2 gw liatin cerpen ini ke lw deh....

Happy Birthday for my mom,,, my friend,,, and my aunty


Rr Wahyu Nurul Fitri R
3.28 am
January 5th 2010
Selengkapnya...

Jumat, 28 Agustus 2009

Happy wedding




sama seperti saat ini...
mungkin sama seperti saat itu.
aku diam.
ya..
aku masih diam tanpa kata...
menunggu... hanya menunggu.
sesuatu yang tidak pasti. tapi itulah yang selalu menggaung
dalam hatiku






hanya sebuah kisah. aku selalu memikirkannya.

tanpa henti dia selalu membayangi diriku.

"kisah? apakah kisah itu? sebuah kata? sebuah pengalaman? ataukah sebuah.... sebuah apa?!", terkadang aku bertanya pertanyaan bodoh ini pada diriku. Tak peduli maksud dari kata kata yang aku katakan pun. Aku tetap berjalan. Dengan harapan yang... ada dan tiada. timbul dan pergi. mengiringi nafas dan langkahku.
Entah sampai kapan aku akan begini. Menunggu suatu yang tak pasti, Mencintai tanpa mau berbuat sesuatu.
Terkadang aku katakan uraian kata yang sama pada diriku sendiri. "Aku trauma!"

dan kuharap... tidak.. tidak untuk kali ini.

salahku memang... menyukai seseorang yang kurasa menuju harapan tipis mencintainya.
salahku memang, mencintai seseorang yang kurasa mempunyai kemungkinan kecil untuk dicintainya.
salahku memang, mencaci diriku sendiri yang tak berani menatapnya.
dan salahku. menjadikannya seorang yang kutunjuk untuk hatiku.

Sekarang aku hanya bisa bersenandung kecil. Mengharapkan kemungkinan bahwa dia kan jadi milikku. Aku masih berkhayal, dia kan ada untukku. Bukan hanya menjadi seorang kakak. Tetapi lebih.

Yah... seorang kakak. Mungkin sekarang dia menganggapku seorang adiknya. Tetapi, aku pun tak yakin atas segala perasaan kakak beradikku padanya.

"Tuhan...", terkadang aku mengadu padaNya. Bertanya akankah dia kan jadi milikku. Dan, tak kuasa aku mendengar jawaban apapun. Apa yang kubayangkan saat ini...satu satunya adalah tiba - tiba sampai di depan rumahku. Di antar oleh pak pos. Sebuah surat bertuliskan "undangan pernikahan", ya. undangan pernikahannya dengan seseorang.

Sungguh aku tak mengharapkan itu!

....................................

Sekarang aku mulai beranjak, dan bangun dari segala pikiran kosongku tadi. Ya, tadi aku melamun di pinggiran taman kota dengan segala baju santaiku dan sepatu kets ku.

Ku angkat kaki-kaki ku untuk melangkah malas. Setidaknya untuk membeli satu cup es krim di bakery sebrang yang juga mencual es krim yang enak.

Aku sampai di sana. tak kusangka aku bertemu dengannya siapa yang kupirkan sejak tadi.
Dia sedang bersama seorang wanita. entah siapa. Rasanya pemandangan itu membuatku miris tak terkira. Tak berhujung dan apapun juga.

Aku pun pura-pura tak melihat *mereka* lagi. Dari pada aku harus menanggung irisan hatiku jika dia melihatku berada di sini.

Akupun menjumput sebuah es krim. Dan kubayar es krim itu di kasir.

Aku juga langsung menuju mobilku. Ku injak pedal gas nya, dan beranjak menuju ke rumah.

........................
Sesampainya di rumah pun aku tidur tiduran malas. Tanpa ingin melaksanakan satupun pekerjaan. Aku juga mematikan handphoneku. Setidaknya untuk menghilangkan rasa kesalku jika suatu saat dia bernyanyi.

"ting tong! pos!", tiba - tiba segala keheningan pikiranku buyar dengan suara bel pintu dan teriakan pak pos. Kupikir dia sudah berteriak berulang kali tadi.
Sungguh aku tak mengerti mengapa tak satupun menghiraukan kedatangannya. Sehingga aku harus beranjak malas keluar kamar dan menerima surat apakah itu.
........

"non... ini ada surat..", ujar pak pos yang sudah separuh baya tersebut.

"iya pak..", sembari aku menandatangani tanda terima surat yang tak kuketahui apa.
Kemudian, bapak pos itupun mengeluarkan satu bungkus map coklat besar dari kantung suratnya. Akupun menerimanya dengan perasaan datar.

Kulihat tertulis di label namanya Ririn, namaku. Sehingga kubuka perlahan.

Kutarik...

isinya surat undangan! tanganku lemas menggenggamnya. Kubaca, alamat keluarga di bagian belakang sebelah kirinya, adalah nama keluarga dia. Oh.. sungguh ku tak sanggup menoleh ke keluarga di sebelah kananya.

Hingga ku kuatkan hatiku membuka amplopnya keras khas undangan. Kutarik isinya.

dan isinya...

"hei rin!
bagaimana undangan ini? bagus tidak? aku memesannya sebulan lalu.
dari kemarin aku ingin melihatkannya padamu. tapi sungguh aku tak tau harus berkata apa...
tapi kau lihat kan? nama yang tertera di depan amplop ini?
bagaimana?
kau setuju tidak?
kalau setuju.. tentu aku akan segera menikahinya!
jika ti..
ah! kuharap kau menjawa setuju!!!

kutunggu jawabanmu segera ya...
saat ini.
di tempatmu sekarang.
tinggal kau menoleh sedikit ke belakang.
oke?"

Akupun menoleh ke belakang. Kulihat dia sedang tersenyum padaku. Memegang satu kotak merah yang kutebak isinya cincin.

Aku menganga...
Dia tersenyum.

"bagaimana?", tanya nya.

Aku segera menarik kembali amplop undangan tersebut. Kubaca baik baik...
Tulisannya

"Happy wedding...
Ririn & Doni"








Rr. Wahyu Nurul Fitri R
Jakarta Selatan
28 Agustus 2009
2:51 am
Selengkapnya...

Minggu, 23 Agustus 2009

winter di hatiku


dingin...


kurasakan sungguh dingin malam ini. Tak dapat aku merasakan sedikitpun kehangatan pada tubuh ini. ditambah lagi dengan segala kegelapan membuatku semakin saja merasa dingin.

ku mendengar suara dentingan lonceng jam besar. aku tak tau berasal dari mana suara itu. aku mencoba mengingat.
seingatku, tak punya satupun di rumahku jam yang mengeluarkan bunyi seperti itu.

.....
hening kembali seusai jam itu berdentang.
tak kudengar satupun suara lagi. sunyi senyap di sini.
tetapi yang aneh. kurasakan dingin semakin menghajar seluruh tubuhku. mulai merayap dari telapak kakiku hingga ke kepalaku.
sekarang mulai terdengar "alunan musik baru"
alunan musik. gigiku yang bergemerutup.

aku mulai mendekap badanku erat erat. kurasakan aku menggunakan mantel berbulu tebal.
kutarik selimut tempat tidurku itu. meringkuk badanku. guna menghangatkan tubuh.
sungguh dingin saat ini.
ditengah gelap aku bersenandung dengan gigiku yang saling beradu.

"tap.. tap..", aku mendengar suara langkah kaki dari kejauhan mulai mendekat.

"krek", aku juga mendengar. pintu dibuka.

aku kembali pura pura tertidur.
kupaksakan kakiku yang sudah terasa hampir membeku untuk lurus. lalu kuluruskan badanku agar terlentang menghadap ke atas. dan kupaksakan dekapan tanganku untuk terlepas.

"tap.. tap.. tap.. tap"

aku mendengar kembali suara langkah - langkah kaki. sekarang terasa semakin banyak saja suara tersebut.
dalam gelap, aku merasa sedikit takut. ditambah segala rasa dingin ini semakin saja membunuh sel sel dalam tubuhku. terkadang aku berpikir "apa mungkin sekarang bersalju?"
"ah tidak mungkin", bantahku sendiri.
segala impianku memang untuk melihat musim salju. tetapi,.. itu impian sia-sia.

kembali aku mendengarkan segala percakapan dalam gelap.
terdengar semuanya suram. rasanya, pendengaranku seperti tertutup kelam. pengelihatanku gelap.

sebenarnya dari tadi hendak kubertanya "ada apa ini?"
"dimana aku?"

tak sedikitpun ada jawaban. karena, sepertinya segala kataku tak kunjung bersua.

....
tiba-tiba. kurasakan genggaman hangat di tangan kanan ku. Genggaman tangan itu, satu-satunya yang hangat saat ini.
sekarang kurasakan, ada sepasang tangan menggenggam erat tanganku. dan mulai kurasakan tetes air di atasnya.

ingin ku bertanya kenapa?
tapi, yang keluar, hanya sebuah kata gagap dari bibirku, ".k..kn..knaap.. pp..pa?", sambil kubalas genggaman tangan hangat tersebut.

kumerasakan, genggaman itu semakin erat saja. dan sedikit menarik tanganku.
sekarang aku merasakan. benda dingin yang sepertinya berbentuk bulat menjuluri tubuhku.
lalu kumendengar lagi, berbagai suara orang berbicara. yang ku tak yakin sekumpulan kata-kata apakah itu.

terakhir, aku mendengar bisikan...
"na.. coba kamu gerakin apa saja bagian tubuh kamu yang bisa digerakin ya.. kalau kamu denger kata-kataku..."

aku tak tau itu instruksi siapa itu. tetapi, aku menggerakan seluruh tubuhku yang mulai membeku.

aku mendengar lagi suara sedikit jeritan seseorang. tak kuketahui siapa dia.
sepertinya, jeritan itu menandakan bahagia.
lalu, kudengar kembali suara bisikan... "na, kamu bisa denger instruksiku? bisa jawab gak? atau gak, apa kamu udah sadar?"

aku sekali lagi berkata, dengan berbisik sekarang.
"iya... aku dengar..."

"alhamdulillah", kali ini aku dengar satu kata utuh dari suara beberapa orang yang nampaknya ada di sekelilingku.

"ina.. saya coba buka perban di mata kamu ya?", ucap seorang lelaki yang berada tak jauh dari tempatku.
aku tak tahu siapa dia. tapi aku anggukkan saja pertanyaannya.

sekarang, aku dalam posisi duduk di tempat tidurku. masih dalam keadaan dingin.

kurasakan, ada tangan menjuluri kepalaku. seperti hendak melepas benda yang merekat di mata ku.
aku rasakan, longgaran lilitannya.
hingga sekarang... aku disuruh membuka mataku perlahan.

...............
buram.. tapi tampak cahaya menusuk mataku.

mataku menangkap beberapa potret bayangan beberapa orang berbaju putih. dan beberapa orang lainnya.

sekarang, kedua bola mataku bisa menangkap. potret Mita, sahabatku di sebelahku.

aku tersenyum padanya.

dia memelukku. erat sekali. sambil menangis. Ya. menangis. aku dapat mendengar isak tangisnya.
........................................................

hmmh.. aku tersadar dari lamunanku...
lamunan hari itu...
ketika hari pertama aku dapat melihat lagi.
*yang ternyata aku berada di negara salju, dengan bau obat di sekelilingnya, baru rumah sakit. dan juga negara dengan khas jam besarnya*

dan sekarang aku megingatnya...
dengan winter di sekelilingku. dan di hatiku.
ya, winter di hati...


yang membekukan segala rasa cintaku padanya.
siapa yang memberikanku sepasang bola mata indah ini...
agar aku dapat melihat lagi.
dengan sepucuk surat pula yang ditinggalkannya untukku.

isi surat ia akan menghilang dariku ketika aku bisa melihat warna dunia.
agar aku tak memaksakan mengembalikan bola mata ini padanya.

tapi, apa guna surat itu?
sampai padaku dalam kondisi berlumur darahnya.
dan dia.,,,
pergi.,
membekukan hatiku.
sebelum aku sempat menatapnya lagi.



Rr Wahyu Nurul Fitri R
23 Agustus 2009
2:00 am
Jakarta Selatan
Selengkapnya...

Sabtu, 22 Agustus 2009

Si...



Aku di tengah gelap malam. Tanpa inspirasi, tanpa keunikan. Kata orang sih “mati gaya”

Ha-ha-ha

Terkadang aku tertawa sinis pada diriku ini. apakah aku? Berada di tengah dingin malam tak ingin pulang? Tak ada tujuan seakan tak punya kerjaan.

Yah…

Aku punya kerjaan.

Semestinya aku kembali ke rumah saat ini. tak peduli yang ada di sana. Apakah itu? Sesosok besar hitam legam. Aku membencinya! Aku tak suka didekatkan padanya. Dia hanya berjalan dengan bentuk kepolosannya. Tanpa mengerti arah tujuannya. Oke! Itu pendapatku. Tapi, bukan berarti aku sirik padanya! “not! Of course” yah.. itulah kata-kata yang kupelajari ketika mencuri-curi dengar kak ryama belajar dengan sesorang yang kukenal. Tapi, sekarang aku tak peduli. Memang apa urusanya? Hah. Tak ada hubungannya denganku “tentu” sejak nenek moyang kami pun, kami tak akur.

“kcipak kcipuk”

“ah!”

Tak adakah seorangpun melihat keberadaanku disini? Manis dan juga mempesona. Kenapa bisa-bisanya mereka melewati ku begitu saja. Eh? Aku baru menyadari! Genangan air saja tak mereka hiraukan… apalagi aku? Eh? Aku salah ya? masa aku menyamakan diriku sendiri dengan sebuah genangan air? Hal yang aneh bahkan untuk tidak diakui.

Aku berjalan saja. Tak ada gunanya aku di sini.

Sesekali aku melihat cahaya mobil lalu lalang di hadapanku. Cahaya nya kunjung menyilaukan mataku. Sekejap, aku berharap ada yang datang menjemputku. Tapi, kubantah itu… “tak mungkin! Tak mungkin ada yang menjemput! Mereka sudah terpesona dengan kedatangannya”. Tapi aku tak bisa mengungkiri aku RINDU! Andai kamus yang kumiliki lebih lengkap. Maka akan kukatakan pada mereka “lihatlah aku di sini.. lebih menawan dan anggun dari padanya, lebih menarik dan manis dari padanya… mengapa kalian begitu suka melihat keadaannya?” hah,,, andai saja mereka mengerti perasaanku.

Aku ingin mengatakan pada mereka gelisah hatiku

Aku lelah dengan apa yang ada. Setiap aku bicara tak ada yang mau mendengarkanku. Setiap aku bercerita tak ada yang mau menggubrisku. Setiap aku bahagia, tak ada yang paham pada ucapku. “apakah aku begitu tak berarti di mata mereka hingga melakukan semua itu?”, pikirku.

Aku terus berjalan, dan masih berjalan. Aku adalah sosok yang tak punya tujuan. Berharap ada yang melirik kemari dan menyadari kemenawanannya diriku. Setidaknya aku tetap berterima kasih pada mereka yang masih mendandaniku, hingga aku keluar rumah tadi siang. Keluar rumah melewati jalan berkerikil tajam. Rintangan dan perlikuan harus kulewati. Apa mungkin ini yang dinamakan hidup yang “liar”. Tak sedikitpun kumembayangkan hal tersebut ketika ku di rumah.

Sekarang, lagi-lagi aku melihat. Sosok seperti apakah yang lebih disayang oleh mereka semua! Aku semakin kesal. Aku memang kecil! tapi setidaknya, sadarilah keberadaanku di sini. Terima kasih dan sampai jumpa untuknya. Mereka benar-benar tidak mencariku! Apakah harus aku menghadang di tengah jalan agar aku pergi saja ke dunia lain?

Hah.. kurasa itu ide bodoh. Sekarang aku benar-benar lapar dan rindu rumah, hingga kukatakan pada diriku sendiri “seandainya mereka tetap dengannya,mahluk hitam besar, dan selalu berkesah dengan juluran lidahnya, dan juga tetapi tetap mempedulikanku, dan mencariku untuk datang menjemputku, maka aku akan pulang menikmati makan malam, dan kasih sayang mereka walaupun terbagi”

“…….” , aku seperti mendengar ada yang memanggilku. Kukira itu nadia. Tapi, tak mungkin. Dia sudah asik dengannya, si hitam sok gagah berkaki empat!. “….si….”, hah? “si?” apakah itu yang dimaksud adalah diriku???

Sekali lagi aku berusaha mendengar… ternyata yang dipanggil adalah

“puuusssiiii!!!”

hah? Pusi? Memanggil seekor kucing dong? Aduuuh.!

Kalau begitu, yang dipanggil memang diriku!!!!!



Nurul

19 Juni 2009

Jakarta,

17:27 WIB
Selengkapnya...

Kamis, 20 Agustus 2009

Pangeran Lolipop




PANGERAN LOLIPOP


Hujan disini… aku nampaknya sedang kedinginan..

Ada siapa? Hanya aku tinggal menunggu..

Dari kejauhan aku melihat bayangan sesosok pria membawa payung. Ah.. kupikir. Tak mungkin ia datang untukku. Beberapa kali, wanita di bawah bunga terbalik mekar berwarna pelangi berkeliaran, tertawa ke sana sini. Yah. Mereka tak mengabaikan keberadaanku.

Sekarang teman bicaraku hanya tiang berdiri kokoh di sebelahku ini.

Tak lama kemudian ketika aku bertengkar pada tiang, yang tak bersahabat dan tak mengucap sepatah kata apapun padaku “DUAR!” petir menyambar. Tak seorangpun menggubris keberadaanku.
Hingga datang seorang pria bertudung biru, dan bersepatu layaknya TIM SAR.

“ini…”

Dia memberikan segagang permen lollipop besar dengan mekar bunga tulip di atasnya. Dia pergi sebelum aku sempat menyatakan terima kasih padanya. “baik hati sekali orang itu…”, pikirku.

Dengan lollipop besar itupun akhirnya aku berjalan saja menyisiri derasnya guyuran air saat itu. “huuuf…”, satu satunya kata yang terlintas di pikiranku saat itu. Dingin rasanya, aku ingin cepat pulang. Kulihat baru saja ada seseorang berteriak “kyaaa! Awas….. “, dan bla-bla-bla. Orang itu mengumpat. Dia kesal dengan perilaku supir sebuah mobil yang melintasi derasnya hujan tanpa memperhatikan kolam kecil di tengah jalan tersebut. Kulihat tubuh orang itu basah kuyup. Aku ingin membantunya, tapi apa hendak kulakukan, tubuhku juga basah kuyup saat ini. kurasa, satu-satunya bagian tubuhku yang tidak basah karena air karunia ini adalah buku-buku di dalam tas ku. Karena, bahannya terbuat dari bahan seperti parasut. “yaaah…”, pikirku. Mungkin itu semua akibat hujan kali ini hampir 45 derajat kemiringannya.

Terkadang sembari berjalan aku berpikir “baik sekali lelaki tadi datang menghampiriku yang sedang berdiam seribu bahasa kepada tiang di sebelahku, dan memberikanku lollipop manis yang dapat menghantarkanku kembali pulang”, yaaah… walaupun ini tak banyak berguna.

Hujan semakin deras saja. Aku tak berani memecahkan konsentrasi ku pada genggaman tanganku pada payung, dan terus meihat ke depan. Lama kelamaan aku semakin aneh. Tubuhku terasa semakin basah saja. “Apakah mungkin, hujan yang derjatnya 45 tadi, sekarang sudah berubah menjadi 180?”, kurasa itu hanyalah pikiran bodoh! Hahaha… aku tertawa sendiri membayangkannya.

Sekarang lagi-lagi aku melihat kejadian di tengah hujan. Seorang anak kecil rela berhujan-hujanan dan memberikan payung satu-satunya kepada seorang bapak-bapak berdasi, yang tampaknya akan berjalan keluar kedai makan di sana untuk berjalan menuju mobilnya yang sebenarnya tidak ada dalam jarak sepuluh meter dari halaman kedai makan tersebut. Terkadang aku berpikir nakal “mulianya hati anak itu?”, atau terkadang aku berpikir “apa yang sedang dilakukan orang tuanya di rumah ketika anaknya melakukan kebajikan tersebut?”, aku tak habis pikir.

Sekarang lamunanku bukan pada sekelilingku lagi. Aku pun mulai tak konsenterasi pada jalan. Aku justru membayangkan lelaki yang memberikanku gagang lollipop manis yang sedang kupegang saat ini untuk melindungi ku dari hujan. “alangkah baiknya ia…”, lagi-lagi itu pikirku. Hingga aku menyadari, sepertinya lama kelamaan kepalaku ini semakin diterpa lebatnya hujan. Aku ingin berlari. Tetapi, rasanya tak lucu berlari saat ini. bisa-bisa justru aku akan mencuci bersih baju putihku ini dengan segala air yang telah bercampur tanah. “yaaah… ku harus berabar”, setidaknya sedikit lagi aku sampai di rumah. Dan, aku juga harus mensyukuri kedatangan “pangeran lollipop” tadi yang telah datang memberikanku gagang lollipop ini. Ya, sekarang aku menjulukinya pangeran lollipop. Ternyata dia benar-benar baik, peduli padaku yang sedang membisu karena tiang tak kunjung berkata padaku.

Aku terus saja memikirkannya, “siapa dia?”

Sampai tak sadar, aku telah sampai di depan pagar rumahku. Dan, saat kusadar ternyata hujan telah berhenti. Aku, memasuki halaman rumahku. Sekelebat aku melihat orang bertudung biru terlintas di pikiranku. Aku megunci pagar.

Sesekali aku mendengar tawa “hihihihihi”. Tapi aku tak menggubrisnya. Aku tetap mengunci pagar. Dan baru menurunkan payung ku itu.

Tiba-tiba, aku melihat hal yang mengejutkan! Bersamaan dengan suara tawa “hihihi” yang tadi terdengar, menjadi lebih kencang. Sekarang menjadi “hahahhahaa!!!”, tawa yang sungguh menjengkelkan datang tepat di sebelah kupingku.

Mukaku memerah.

Ternyata, dia adalah orang bertudung biru tadi yang memberikanku payung yang ternyata bolong! Dia kakak tertua ku!!!




by: Wahyu Nurul Fitri R
Senin, 20 Mei 2009
17.00 WIB
Selengkapnya...

*Bingkai*

Hmmmh…

Pandanganku terpaku pada bingkai biru kecil

Bergambarkan dua orang gadis remaja.. tersenyum..

Ya. ‘dia’ tersenyum.

Tampaknya angin segar seperti mengiringi senyuman mereka. Berhilir bersama sedikit larian anak kecil di belakang mereka. Tampak ramai di bingkai itu. Tetapi, senyuman mereka lah yang paling bahagia.

Memori berputar. Kembali pada kenangan lama. Kenanganku yang kecil. Menyakitkan.

Tak kusangka dia adalah pacar Arno. Siapa yang kuinginkan….

Dia selalu tersenyum bahagia, jika kubercerita. Tak kusangka dia berkhianat. Rela membohongi sahabat kecilnya ini. menyakitinya. Hingga aku ingin setidaknya ingin merasakan “kelenyapannya” dari dunia, walau sementara… yah. Aku baru saja bergeming seperti itu waktu itu… hingga pada saatnya aku terlelap tidur… menangisi segala kenyataan. Bahwa pacar Arno adalah sahabatku sendiri…

Terlelap di antara gerlingan air mengalir di sela sela pori-pori pipi pada wajahku.
*********************
Ku ingat… pagi harinya… terdengar bunyi getar manis menyelingi sepi kamarku, di sela-sela waktu ku usai mandi di senin pagi yang cerah.

Aku tergelak bahagia menyambut sms tersebut. Mungkin saja itu adalah sms yang kutunggu waktu itu. Yah.. mungkin saja.

Kulihat, kubuka kode hape ku. Di situ… di layar handphone-ku tampak “1 new message”
Aku membukanya, tak kusangka itu adalah sms berisi…

“innalilahi wa innalilahi rojiuun… telah berpulang ke Rahmatullah. Salah satu teman… Anardia Nissa pagi jam satu dini hari pada tanggal 7 Juni tadi pagi…”

Tak kuteruskan membaca…

Tak tau aku harus berkata apa-apa. Aku justru mematikan handphone ku. Dan tetap kuteruskan bersiap-siap di pagi yang mulai mendung tersebut . yah… hari itu ada rapat penting untuk UKM ku. Aku tetap berjalan tegas menuju gerbang rumah ku. Berusaha mengabaikan bayang – bayang sms yang telah dibaca pagi itu… “abaikan! Abaikan sms itu”, itu adalah kata-kata yang terus kukatakan dalam hati kecil yang sebenarnya justru tersenyum lebar.

Ya. aku tersenyum lebar. Suatu perilaku yang tak bisa kumaafkan bahkan sampai detik ini.

………………………………………………………………….
Aku sampai di kampus waktu itu. Masih kuingat jelas. Betapa sibuknya aku. Berbagai urusan UKM membuatku tak mengingat lagi soal kejadian sms tadi pagi. Tak kucari tahu sama sekali apapun soal sms tersebut. Ingat, aku mengingat… hari itu aku sibuk. Karena itu adalah rencana berpergian kami, anggota para UKM PRAPALA (pencinta alam) yang hendak pergi ke gunung Putri minggu kemudiannya.
Di tengah rapat aku teringat! Aku ada kuis waktu itu. Kalau tidak salah… mata kuliah pengendali mutu. Sehingga aku harus bergegas menyelesaikan rapat yang kupimpin waktu itu. Aku harus masuk kelas.

Aku berlari…
Aku benar-benar melupakan sms paginya tersebut.

Sehingga sedikit banyak aku tercengang, melihat hampir separuh mahasiswa mahasiswi kelas waktu itu, memakai pakaian berwarna gelap. Pakaian berkabung tepatnya.

Ternyata, kabar tersebut sampai ke telinga dosen. Dosen pun memakai warna baju serupa.
Aku hanya bisa menganga… itu kan sebenarnya hanya kabar bohong yang kusebarkan subuh tadi. Dengan nomor baru yang kubeli… *tak ada yang menyadarinya*

Ditambah lagi, Nardia baru saja pindah. Nomor rumah barunya tidak ada yang tahu. Dan hapenya sedang rusak.

Lengkap sudah.

Aku hendak saja diajak ke rumah Nardia. Aku hanya bisa bertubuh lemas.

Aku mengikutinya… sama sekali aku tak berani berucap kata. Kuis telah dihentikan. Dan semua menuju rumah Nardia.

Aku tak bisa membayangkan… bagaimana reaksi orang tua “dia” nanti. Ya.. dia.. panggilan kecilku padanya…

Tapi tak kusangka. Kejadian yang ada di rumahnya justru lebih mencengangkan dari yang ku kira. Yah. Tak ada bendera kuning. Tak ada apapun tanda sedih di tampaknya. Tetapi, di dalam… ternyata…
Dia telah terkujur dengan bibir pucat pasi. Lemas. Dikelilingi oleh orang yang menangisinya.
Aku diam. Pandanganku kabur.

…………………………………………………………………………………….
Sekarang, aku hanya bisa membayanginya. Memandangnya dalam bingaki kecil biru itu. Satu-satunya kenangan terakhir ku dengannya. Dan juga, secarik kertas kecil di sebelahnya…






“nya… Happy Birthday! Gw sengaja nulis di secarik kertas ini… ahahhaa! Gimana surprise party nya? Menikmati kah?

Udah sengaja gw setting supaya Arno dateng… ehehe. Sori nih. Gw gak bilang. Kalo Arno sebenernya sepupu gw… gw juga baru tau.

Minggu kemarin, gw jalan bareng dia. Yah. Nostalgia 10 taun gak ketemu lah… apalagi dia jadi keren. Nama panggilannya pun berubah.

Nya.. dia suka ama lo.. ahaha. Sekarang lo udah jadian kan ama dia? Selamet yaaa… (awas kalo lo gak jadian ama dia! Gw marah!!! Hahaha)

Maaf nih. Gw sok2 tulis surat di hari ulang taun lo.. maaf banget juga gw gak bilang. Kalo sebelum hari ulang taun lo, gw harus pergi ke Singapore. Gw harus berobat. Gw sendiri gak ngerti sakit apa. Tapi katanya sih parah. Hahaha.

Tunggu gw di Jakarta yaaa. Dengan senyum bahagia mu bersama Arno….

Sekali lagi.. Happy Birthday Sonya!

Love, Nardia… ^_^”





Seluruh butiran air mataku tumpah waktu pertama membacanya. Deras. Membaca secarik surat yang kubaca. Di tengah pembacaan yasin di kamar dia… dia membungkusnya rapih. Dengan pita, bertuliskan namaku besar-besar… membuatku mudah menemukannya dalam keadaan ‘setengah sadar’.

………………………………………………………………
Tiga hari lalu adalah 5 tahun Dia pergi… hari ini, adalah hari ulang tahunku… aku kembali membaca suratnya.

Dia pergi… dia telah pergi… dengan mengusahakan segala kebahagiaannya padaku. Hanya untukku. Tak peduli kesehatannya. Yang ternyata mendahului segala rencananya…

Dia… ini adalah kesalahan terbesarku seumur hidup. Tak akan pernah kumaafkan diriku ini. telah menodai segala kesetiaanmu…

Rintihan berganti deras tangis.

Aku masih menangis… di sebelah bingkai besar di dinding…

Bergambarkan… foto pernikahanku dengan Arno.






>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
end.


inspirasi: cerita kisha...



*dilarang plagiat*




Rr Wahyu Nurul Fitri R
19 Juni 2009
17.20 WIB
Bintaro, Jakarta selatan.
Selengkapnya...

Related Posts with Thumbnails