Lagi-lagi tangis ini pecah. Pecah dalam hati, tidak kuperlihatkan. Tangisan teraneh yang pernah kurasakan adalah tangisan seperti ini. Tangisan dimana aku tidak mengetahui mengapa kumenangis. Tangisan yang tidak kuketahui apa sebab asal muasal perasaan ini.
Jadi..
“perasaan apa ini sesungguhnya”, tanyaku berulang kali terhadap diriku sendiri.
“tak tau..”, kuberusaha menjawab tanya itu sendiri.
Aku selalu mencoba mencari asal muasal dari mana perasaan ini. Apa ini?
Kusadari, seharian ini aku tertawa bahagia. Berusaha menenggelamkan segala perasaan ini. Aku rasa aku berhasil. Tetapi? Apa daya? Perasaanku tetap tak bisa kukendalikan. Rasanya dia selalu mau mengacaukan air mata ini yang dari tadi berlomba hendak keluar, tetapi kutarik kutahan agar dia tidak mau menetes ke bumi.
Aku terdiam… mengingat sesuatu yang mungkin menyebabkan perasaan ini.
Tapi kusadari, bukan itu. Kucari, kucari.. dan tetap kucari..
Dari mana perasaan itu?!
Dan tetap tak kuketahui.
Aku ingin menangis.. atas sesuatu yang tidak sedang bersedih.
Aku ingin dengan alasan yang tak kuketahui
Aku ingin menangis, bercucuran air mata, dengan alasan, sesuatu, dan apapun yang berhubungan dengan itu yang bahkan tidak dapat kuperkirakan dan tidak dapat kucari tau. Padahal, ini adalah diriku. Mengapa? Sungguh.. aku sangat tidak tau.
Ataukah..
Mungkin mata, dan segala inderaku memang tidak merasakannya, tidak menyadarinya. Tetapi sebenarnya, aku sedang menangisi apa yang terjadi pada negeri ini? Segala tangisan orang lain dapat kudengar tidak melalui telinga, segala rasa iba yang dapat kulihat bukan dengan kedua bola mataku, segala rasa empati yang hadir bukan dengan indera perasaku. Tetapi hadir dengan segala perasaanku dari hati. Rasa.. ingin menangisi.. apa yang sedang terjadi di Negara ini.
Dimana orang tidak lagi peduli kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.. tetapi mereka justru berusaha berlomba untuk kejayaan mereka sendiri. Dengan menyiksa mereka yang lemah, mengambil hak mereka, bahkan juga “menggunakan” mereka untuk menjadikan mereka alat dimana mereka dapat saling berebut kekuasaan.
Dan mungkin…
Itulah asal muasal tangisan ini.
Tangisan, anak Negri
Ps:
1. mereka yang tidak peduli dengan mereka yang membutuhkan pertolongan = mereka yang mampu tapi “belagak miskin” karena mereka bahkan tidak memiliki sebagian harta yang dapat disedeahkan
2. berlomba mencari kejayaan = mereka yang berlomba mencari kebahagiaan dengan kesedihan, dengan mengambil hak orang lain. Dan bahkan sedang menyiksa batin dan fisik mereka yang telah terdzalimi.
3. “menggunakan” mereka sebagai “alat” = mereka yang membujuk banyak orang untuk ikutan menjatuhkan kekuasaan, mereka berkata untuk kejayaan. Padahal, mereka sedang berusaha menjatuhkan kekuasaan untuk kepentingan mereka. Dan andaikan mereka berhasil mereka tetap akan atau semakin menyiksa mereka, yang telah dijadikan “alat” dengan bahkan bayaran uang 100rb? 50rb? Atau bahkan 10rb?
Semoga kalian menjadi orang yang menangisi kepedihan perihnya “mereka yang tersakiti di Negri ini”, bukan menjadi mereka yang mau diperalat. Atau bahkan, mereka yang memperalat.



