Kamis, 20 Agustus 2009

just my sepatu

“la~la~la”, sedikit ku bersenandung dalam hati. Dengan bantuan ketukan nada dari segala langkah kakiku yang “berketepak ketepuk”

Kamera mataku menangkap berbagai macam gambar yang berbeda. Beberapa gambar yang ku tangkap di sudut kanan yang merupakan lapangan sepak bola, terlihat segala anak laki-laki mengadu kelihaiannya merebut satu bola yang bundar yang terus mengitari lapangan. Kinipun aku tertawa kecil… hanya tertawa jahil, berkata dalam diri “hihihi… bola Cuma satu kok direbutin sampe segitunya?”.

Kamera mataku pun beralih mengambil sedikit sudut sekolah lain yang berbeda. Kutangkap lagi sketsa gambar beberapa anak sedang duduk di pinggir taman, mencari satu saja lirikan salah satu pemain sepak bola di lapangan tadi. “astaghfirullah… lihatlah mereka. Rela berjemur di siang bolong demi mendapat sebuah lirikan? Bukankah itu tak berarti?”

Kepalaku menggeleng kecil. Kulanjutkan perjalananku.

Sekarang, sampailah aku di depan kelasku.
Setidaknya aku juga menengok tas-ku yang kugeletakan setengah jam lalu ketika bel istirahat berdentang, di meja tempatku berbagi ilmu. Benda itu masih utuh di sana. “oke”, satu-satunya kata dalam benakku kini. Akupun melanjutkan perjalananku ke arah kantin. Kali ini aku berpikir jahil kembali. Aku melihat para pengajar lainnya sedang termesem-mesem melihat sosok pengajar yang umurnya lebih muda dari mereka melintas di hadapan mereka.

Telingaku kembali menangkap dengar “lihat-lihat… itu kan guru baru yang masih muda itu.. tampan ya?”
Segala kalimat yang diucapkan mereka membuatku bertanya-tanya. “halo? Yakinkah ‘ia’ tampan?” aku sangat tak yakin akan hal itu. Untuk itu kutolehkan pandanganku ke arah kiri, ke arah jendela ruangan guru. Aku melihat potret wajah “guru baru” tersebut. Kupastikan wajahnya. “tampankah ia?”, pikirku penasaran.

Kumenoleh ke arah jendela.

Lalu aku memperhatikan wajah guru baru yang mereka anggap tampan itu. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sambil tatapan mata tetap terpaku pada potret wajah guru baru itu. Aku pastikan sekali lagi. Kemudian aku dapat hasil akhir “ah… dia sama sekali tak tampan!”

Akupun melanjutkan segala langkahku menuju kantin. Di sana terlihat lagi banyak hal. Mulai dari anak yang makan, atau hanya sekedar menjumput satu-dua sedot minuman mereka. Atau mungkin hanya “singgah duduk” di sana.

Aku menarik satu bangku kantin yang nampaknya masih tak berpenghuni. Aku duduk di atasnya. Menarik kembali bangku tersebut ke depan, agar merapat ke arah meja. Lalu kutaruh kedua tanganku di atasnya. Aku memainkan jemari ku di atas meja tersebut. Sambil kepala menoleh ke kanan kiri mencari makanan apa yang sepertinya pas dengan lidahku ini.

“hmmm… siomay, batagor, nasi goreng, nasi ayam, mie ayam, indomie, pisang kipas, hmmm… tak ada yang menarik…”

Aku menoleh lagi ke kanan dan ke kiri. Aku pastikan lagi tak ada menu yang terlewatkan. Sampai akhirnya aku benar menemukan kejanggalan pada pengelihatanku sebelumnya “ah.. itu dia!”, pikirku. Ternyata benar aku melewatkan satu menu dari kantin ini. Pandanganku sekarang terpaku pada satu kedai mungil di kantin ini. kedai itu bertuliskan “bubur ayam” “hmmm… itu favoritku…”

Sekarang, aku tinggal menunggu penjualnya menoleh kepadaku, dan aku akan melambaikan tangan member isyarat kepadanya agar dia bisa mencatat pesananku.

Kulihat penjualnya sedang.. yah sepertinya sedang sibuk. Eh.. tapi! Akhirnya.. dia menoleh…

Akupun melambaikan tanganku kepadanya. Dia menangkap potret lambaian tanganku. Mata berisyarat mengerti bila dipanggil.

Sekarang kulihat dia sedang membersihkan tangannya dengan mengelap-ngelap tangannya di celemeknya.

Dia berjalan…

Tapi ada yang janggal. Kulihat dia sekarang menunduk seperti tersenyum malu.

Rambut tipe buntut kudanya melambai ke kanan dan ke kiri.

Sampai ia di hadapanku, dengan gugup ia berkata “hmm.. p-pa-pak guru mau pesan apa?”

“eh,,, kok saya dipanggil bapak? Saya ini wanita.. memang potongan rambut dan gaya berpakaian saya sedikit seperti lelaki.. cobalah lihat sepatu saya. Tak ada bukan, bapak guru memakai sepatu high-heels?”











Rr.Wahyu Nurul Fitri R
Jakarta, Bintaro
2 Agustus 2009
pukul 13:08 WIB

0 comments:

Posting Komentar

Mohon kritik & sarannya yang membangun...
jangan menjatuhkan, ataupun semacamnya.
Terima kasih atas partisipasinya ^^

Related Posts with Thumbnails